Minggu, 16 Desember 2018

Mangkuk (22)

Mangkuk (22)
Oleh Wak Amin




KEMANA mereka ya?

"Itu mereka, Ngo!" William menunjuk ke sebuah mobil warna putih dekat pohon besar nan rindang.

Bu Anisah, Sufyan dan adik perem puannya baru saj masuk mobil. Mesin belum menyala.

"Mam!"

"Kita ke mal lain aja Kak," kata sang adik, Lisa.

"Mam!"

"Mama nurut aja say," ucap Bu Ani sah sambil melihat ke jalan raya depan mal.

Lalu-lintas tak begitu ramai. Ken daraan keluar-masuk mal tidak menumpuk ...

"Mereka ke kanan Ngo."

"Kalau begitu kita ke kiri," kata Mr Jango. Yakin akan ketemu lagi.

"Kalau ternyata tidak Ngo?"

"Kita ngopi ..."

Ha ha ha ha ...

Ke jalur kanan, ada sebuah mal dekat simpang empat.

Tak seramai mal pertama yang di kunjungi, tapi Bu Anisah senang karena rindang.

Banyak pohon ditanam di halaman utama mal. Malah ada bangku lagi.
Bisa duduk santai.

Kayak taman kota ...

"Mam!" Lisa mengingatkan. Kela maan duduk bisa lupa waktu.

Lupa belanja ...

"Sebentar say. Mama pengen du duk. Sebentar aja."

Suara Bu Anisah berubah pelan. Lirih terdengar.

Rupanya dia teringat almarhum suaminya, Mr James.

Sebelum meninggal dunua, Bu Ani sah sempat diajak Mr James sing gah di mal kedua terbesar di kora bisnis ini.

"Ingat Papa ya Ma?"

Bu Anisah mengiyakan ...

Air matanya menetes ..

"Maafkan Lisa ta Mam."

"Sufyan juga ya Mam."

Adik kakak ini serempak memeluk ibu mereka ...

Meski sebentar. Kurang dari tiga menit, bikin terhenyak hati pengun jung yang hendak memasuki pintu masuk utama mal, menyaksikan se cuil adegan mengharukan itu.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar