Rabu, 26 Desember 2018
Tangisan Rasulullah (17-tamat)
Tangisan Rasulullah (17-tamat)
Oleh aminuddin
Penutup
DI masa sekarang ini banyak yang mencela orang yang suka mena ngis. Tidak jarang ketika seseorang melihat orang lain beribadah semi sal shalat, membaca Al-Quran, ber dzikir sambil menangis, maka orang yang melihat perbuatannya itu justru mengejek dan meren dahkan perbuatan menangis tersebut.
Ada pula sekelompok umat Islam saat ini yang sangat rajin mem bid’ahkan kaum muslimin yang rajin menangis ..
Benarkah menangis sebuah perbu atan yang bid’ah?
Apakah ada dasarnya di dalam Al- Quran dan sunnah Rasul perintah menangis tersebut?
Ternyata ada banyak sekali ayat-ayat suci al-Quran yang mengajar kan dan mengkisahkan kepada kita perihal menangis ini, antara lain :
1. Surat Al Isra: 109 :
“Dan mereka bersujud sambil menangis dan maka bertambahlah atas mereka perasaan khusyu’."
2. Surat An Najmi: 59-60:
“Apakah karena keterangan ini kamu merasa heran, lalu tertawa dan tidak menangis?”
3. Surat Maryam 58:
“…apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
Tangisan Sahabat Nabi
Saat Rasulullah sakit keras dan tidak dapat mengimami shalat dengan para sahabat, saat itu Rasulullah memerintahkan Abu Bakar Siddiq radhiyallahu ‘anhu menjadi imam atas para sahabat.
Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha men ceritakan bahwa jika Abu Bakar berdiri sebagai imam mengganti kan Rasulullah maka beliau akan menangis keras sekali sehingga bacaan qurannya tertutup (tidak terdengar oleh para sahabat) kare na suara tangisannya itu. (HR Bukhari Muslim)
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah telah bersabda pada Ubay bin Ka’ab, “Allah telah menyuruh aku membacakan surat Lam Yakunil ladzina (Al-Bayyinah) kepadamu."
Ubay radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apakah Allah menyebut namaku, ya Rasulullah?”
Nabi menjawab “Iya. Namamu dan nama bapakmu.”
Maka menangislah Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. (HR Bukhari Muslim).
Suatu hari sesudah Nabi wafat, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma mendatangi Ummu Aiman.
Beliau berdua berziarah kepada Ummu Aiman karena mengikuti perilaku Nabi yang sering menziarahi wanita mulia ini.
Saat kedua sahabat utama Nabi tersebut sampai di rumah Ummu Aiman, serta merta Ummu Aiman menangis.
Abu Bakar dan Umar bertanya kepa da Ummu Aiman, kenapa wanita mulia itu menangis, seraya kedua nya berkata, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa apa yang ter sedia untuk Rasulullah di sisi Allah adalah jauh lebih baik?”
Saat itu, Ummu Aiman menjawab, “Aku bukan menangis karena itu, tetapi aku menangis karena wahyu dari langit kini telah terputus dengan wafatnya Rasulullah.”
Jawaban Ummu Aiman ini serta merta menyebabkan Abu Bakar dan Umar ra menangis mengiringi tangi san Ummu Aiman. Kemudian mereka bertiga sama-sama menangis." (HR. Muslim)
Beruntunglah orang yang dapat menangis karena takut kepada Allah atau karena terharu dalam agama.
Terkadang menangis juga bisa terjadi karena besarnya kasih sayang yang diletakkan Allah dalam dada seseorang.
Nabi Muhammad SAW pernah me nangis saat melihat putra tercinta, Ibrahim dalam sakaratul maut ...
Beliau berkata: “Air mata ini adalah kasih sayang yang diletakkan Allah dalam hati setiap hamba-Nya.”
Namun demikian, rugi rasanya jika air mata tertumpah untuk hal-hal yang sepele, dan tidak bernilai di sisi Allah SWT.
Hari ini banyak air mata tertumpah untuk hal yang sia-sia, sementara untuk agama matanya beku tak pernah menangis.
Rasul berpesan: “Mata yang beku yang tidak mampu menangis ada lah karena hati orang itu keras, dan hati yang keras adalah karena me numpuknya dosa yang telah diper buat. Banyaknya dosa yang dibuat seseorang adalah karena orang ter sebut lupa mati, sedangkan lupa mati datang akibat panjangnya angan-angan. Panjang angan-angan muncul karena terlalu cinta pada dunia, sedangkan terlalu men cintai dunia adalah pangkal segala perbuatan dosa.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar