Mang Kerio (44)
Oleh Wak Amin
DI gubuk 'derita'.
"JAMES. Suruh pulang Jonan seka rang!" Perintah Edward.
"Siap komandan!"
"Jangan pulang sebelum kau temu kan dia."
"Siap komandan!"
Sampe di pintu pagar. James coba mengontak lagi teman sekerjanya itu.
Lagi-lagi tak diangkat ..
Hanya terdengar suara tut .. tut ... tut ..
"Udah gua cabut ajala," ucap James yang meskipun tak punya sehelai rambut tapi ganteng dan macho.
Dia menuju ke 'rumah' nya Cek Le ha. Bersama bleki duduk santai ber dua di kursi teras.
Sesekali memandang ke arah po hon belimbing ..
James berhenti tak jauh dari pohon itu. Dia lihat Cek Leha. Dia lega ka rena boleh jadi Jonan ada di dekat kolega Mang Kerio itu.
Maka itu, dia bermaksud menemui Cek Leha. Namun, sebelum keingi nannya itu terwujud, bleki turun dari meja teras dan ..
Guuk .. Guuk .. Guuuk ...
James mundur beberapa langkah. Bleki terus mendekat ..
Cek Leha memanggilnya ...
Bleki .. Bleki .. Bleki ..
Bleki mendekati Cek Leha yang ber diri satu meter jaraknya dari Ja mes.
Bleki masuk menemui Mang Kerio dan Pak Robin. Sedangkan Cek Le ha meladeni James.
Keduanya sempat tertawa ...
"Tuan Jonan memang mengantar saya. Tapi cuma sampe di pintu pagar. Setelah itu dia pergi," jelas Cek Leha, agak gugup dan tertekan.
"Pergi kemana ya?" James masih menduga-duga kemana perginya Jonan.
"Mungkin baru nyampe Tuan Ja mes. Enggak sempat seketemuan di jalan."
Eeeeem ..
"Mungkin juga ya Non Ha. Coba ku telepon dulu .."
Edward baru akan mengangkat, na da sambung telepon genggam bu ru-buru dimatikan.
Ada apa ya?
Rupanya, setelah dipukul keras de ngan martil oleh Mang Kerio, ba dan James diseret masuk ke sebu ah kamar di ruangan belakang.
Kemudian diikat kedua tangan dan kakinya dalam posisi telungkup de ngan mulut disempal dan mata di tutup kain hitam.
Di sebelahnya Jonan. Sempat sium an tadinya. Kembali tak sadarkan diri setelah bogem mentah yang di lesakkan Pak Robin tepat menge nai rahangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar