Tangga Bahagia (5)
Oleh aminuddin
JADI menurut Bertrand Russel yang mengalami sendiri kegoncangan hidup modern Eropa : Bahagia itu adalah dalam rumah tanggga.
Keempat, apakah mata penghidupan itu membawa bahagia atau celaka?
BANYAK mata penghidupan atau perusahaan itu memenatkan badan, memayahkan diri.
Namun tidak dapat dimungkiri bah wa perusahaan yang ada buahnya, walaupun bagaimana payah meng erjakan, membawa bahagia bagi diri.
Zaman kemajuan ini segala daya-upaya mengikhtiarkan bagaimana supaya orang merasai kesenangan dan bahagia di waktunya yang seng gang, atau di waktu vriy bekerja.
Kepercayaan yang dirasai orang di zaman modern ini di waktu bekerja, kecil sekali jika dibandingkan deng an kepayahan dan kesusahannya bilamana diam menggunakan istirahat itu.
Istirahat lebih repot sekarang dari bekerja ...
Usaha (mata penghidupan) itu ialah jalan manusia mencapai kejayaan. Jika pekerjaan itu masih melekat dengan diri, selama itulah dia di sukai orang, selama itu pula ada harapan perusahaan itu akan membawanya kepada kejayaan.
Oleh sebab itu, kalau masih ada orang yakin dan percaya di dalam memegang pekerjaan, selama itu pula dia ada harapan akan menca pai bahagia.
Dua sebab yang boleh menjadikan usaha kita menarik, yaitu :
• Mahir
• Pandai mencari bentuk yang baru
Orang yang mengerjakan pekerjaan sejak dari hatinya, selalu berusaha hendak mempermodern, memperba harui dan memperindah pekerjaan itu.
Di kala orang masih muda dan re maja, persaan ini nyata kelihatan ...
Kemahiran dan kesanggupan mem buat bentuk baru, sangat menim bulkan bahagia di dalam hati, wa laupun hasilnya yang lahir tidak kelihatan pada saat itu juga.
Seorang ahli politik yang telah me nang siasatnya di kala dia menjadi menteri kerajaan, bila dia telah tua, sangatlah bahagia hatinya melihat hasil pekerjaannya dahulu itu.
Tetapi ahli seni kebanyakan berjiwa yang putus asa. Sebab itu mereka ini tidak beroleh sukses di dalam pekerjaannya, banyaklah mereka yang mengundurkan diri dan memencil.
Kebahagiaan ahli pena ialah meng atur bahasa dan pandai mencari teknik yang baru dari karangannya atau surat kabarnya.
Tetapi di zaman kita banyak kala ngan jurnalis justru tidak merasa bahagia. Hal ini dikarenakan mayo ritas orang yang menerbitkan koran bukan untuk menumpahkan cita-cita melainkan untuk mencari uang.
Karena itu mereka tidak dapat me muaskan kemahiran dan teknik at au bentuk yang baru. Sebab mereka takut akan merugikan perusahaan majikan yang berakibat pada hila ngnya sesuap nasi.
Karena itu kebanyakan mereka me nulis hal yang tidak bersetuju de ngan perasaan hati sendiri. Hanya laksana mesin saja. Menghasilkan tulisan dan menerima gaji tiap bulan.
Lain dari itu ...
Masa bodoh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar