Tangga Bahagia (4)
Oleh aminuddin
TANGGA bahagia ketiga adalah rumah tangga ...
Sejak manusia hidup, rumah tangga menjadi pusat kesenangan dan ba hagia. Namun kini justru yang paling kacau-balau ..
Kecintaan di antara ayah dan anak semakin lama semakin kering dan kaku. Kelemahan tiap-tiap orang mencari ketentraman pikiran di da lam rumah tangganya, itulah yang membawa kecelakaan masyarakat pada hari ini.
Kecelakaan rumah tangga tersebab keadaan diri masing-masing, kea daan ekonomi dan pergaulan sehari-hari ...
Tak usah kita mengambil keterang an terlalu jauh. Secara pendek saja kita dapat terangkan salah satu sebab yang menimbulkan kecela kaan rumah tangga.
• Pertama, medan perburuhan terbuka amat besar bagi kaum perempuan.
• Kedua, perempuan zaman kini sudah mulai bosan memandang rendah melakukan kewajiban-kewajiban yang perlu dalam rumahnya.
Dia hendak ke kantor pula, sebab itu rumah tangga tak ubahnya dengan hotel tempat singgah menumpang tidur.
Ada lagi yang terpenting, yaitu ma salah kesulitan tempat diam yang sederhana. Sebab kota-kota mulai ramai. Orang kampung lari ke kota tidak beroleh rumah tempat tinggal yang layak dan agak cukup serta mengurangi kesenangan pikiran.
Selain itu juga lantaran zaman telah berpindah, dari zaman pertuanan ke zaman demokrasi. Tetapi kerap melampaui batas.
Orang tidak merasa perlu lagi taat kepada yang patut ditaati, sehingga anakpun tidak taat lagi kepada ayahnya.
Si ayah tidak mengerti lagi kewaji bannya kepada anaknya, dan si anak pun demikian. Lama kelama an berkuranglah jumlah keturunan, menjadi jarang kelahiran baru ..
Karena tidak ada lagi keinginan orang kepada perkawinan karena mengelakkan tanggungan rumah tangga, dan murahnya bergaul.
Kemajuan sekarang yang telah men capai puncaknya ini tidaklah akan kekal dan panjang umurnya bila mana tali keturunan itu sudah mulai genting akan putus ...
Inilah suatu bahaya yang amat be sar yang mengancam masyarakat yang harus diobati segera. Ialah de ngan propaganda menegakkan ru mah tangga dan mengaturnya de ngan peraturan-peraturan yang baru.
Perasaan sebagai ibu dan ayah, itu lah yang amat banyak menimbul kan bahagia di dalam diri. Jika orang tidak merasainya dia tidak akan tahu apa sebab dan apa nama kekurangan itu ...
Supaya bahagia dirasai, apalagi kalau zaman remaja telah mulai lepas, hendaklah kita merasai bahwa kita bukanlah sendirian di alam ini ...
Kita ada hubungan dengan ma sya rakat. Ada pertalian dengan orang lain. Pertalian yang dikatakan ini tidak terasa jika hanya dengan sahabat dan handai tolan.
Yang sejati pertalian dengan alam, dengan hidup dan dengan masya rakat, ialah berketurunan, beranak, bercucu.
Jika hidup tidak ada pertalian de ngan zaman yang akan datang, nis caya kita bosan dengan hidup. Hi dup ini terasa hambar, tidak ada paterinya dengan diri kita, walau pun bagaimana kekayaan kita.
Zaman yang akan datang terasa ti dak sama sekali pentingnya bagi kita ..
Padahal jika ada hubungan kita de ngan zaman yang akan datang itu, yaitu anak dan turunan, maka ter bentanglah dihadapan kita pengha rapan sebagaimana yang terbenta ng di mata Nabi Ibrahim ketika dia mengetahui anak cucunya akan me menuhi bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar