Peluk Aku Ya Allah (18)
Oleh Wak Amin
USAI melakukan perjalanan sehari semalam, akhirnya pasukan pribu mi tiba di sebuah tempat yang me nyerupai perbukitan.
Ada bangunan benteng yang, walau sudah tua usianya, masih kokoh dan bisa digunakan sebagai perta hanan dan tempat beristirahat.
Benteng itu cukup luas. Di bagian tengahnya ada tanah lapang dan tempat duduk terbikin dari batu ya
ng khusus dipahat menyerupai kursi.
Di sekitarnya ditumbuhi aneka pepo honan, meski sudah lama tidak teru rus, masih lebat dan lumayan nya man untuk berlindung dari panas teriknya sinar matahari.
Di puncak benteng ada dua meriam tua. Dua meriam inilah yang saat ini diperbaiki Kolonel Ihsan dan Kap ten Adi. Meriam ini sangat diperluk an untuk mengantisipasi serangan darat dan udara yang dilancarkan pihak musuh.
Pasukan pribumi bergerak cepat. Jenderal Mansur memerintahkan anggota pasukannya merapikan semua sudut benteng Al A'la, luar dan dalam.
Sedangkan Kolonel Ihsan dan Kap ten Adi, selain menormalkan kem bali fungsi meriam, juga meminta sebagian anggota pasukan pribumi menata ulang persenjataan, terma suk memetakan dan memilih areal penyerangan, pertahanan berlapis serta tempat-tempat khusus yang bisa dijadikan persembunyian se mentara dalam keadaan terdesak karena dibombardir pasukan lawan.
Sementara Zainab dan Maryam ke bagian menyapu halaman tengah. Keduanya berbagi tugas. Zainab menyapu bagian sebelah kiri seda ngkan Maryam di sebelah kanan.
Sisa-sisa daun yang sudah layu, ran ting pepohonan dan bekas tumpu kan tanah yang sudah mengering itu dimasukkan ke dalam bak sam pah persegi empat buatan dua pra jurit pribumi menggunakan media tanah.
Setelah tugas pertama selesai, dua wanita cantik ini bergegas ke ruang belakang Al A'la. Di sana mereka memasak air dan menyiapkan ma kanan sisa perbekalan yang sem pat dibawa dari Al Hayat.
"Kak Maryam. Kalau capek istirahat dulu di kamar. Biar Zainab yang me neruskannya," kata Zainab. Dia meli hat Maryam kelelahan. Sorot mata nya sendu, sepertinya kekurangan tidur.
"Enggak Nab. Kakak enggak capek," jawab Maryam sembari mengering kan cucian piring dan gelas di atas lantai tanah yang sudah mengeras.
Maryam berbohong. Dia capek se benarnya. Tapi dia tak tega mem bi arkan Zainab bekerja sendirian di dapur.
Apa saya salah? Tanya Maryam dalam hati kecilnya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar