Peluk Aku Ya Allah (19)
Oleh Wak Amin
SEHARI kemudian sekujur badan Maryam panas. Tapi di depan Zai nab dia berusaha sebisa mungkin selalu riang. Meladeni Zainab bica ra, bercanda, sampai akhirnya ...
Bruuuuk ...
Jatuh pingsan di kamarnya. Sang Ayah, Jenderal Mansur bergegas masuk ke kamar. Menenangkan Zainab yang menangis dan menci um kening Maryam yang tergolek lemah.
"Maryam ..."
Meski belum juga sadar, Jenderal Mansur yakin Maryam masih bisa bertahan dan disembuhkan.
Makanya, sebelum meninggalkan kamar tanpa ranjang itu, Jenderal Mansur membisikkan sesuatu di telinga anaknya itu.
"Kamu harus kuat Nak. Kami se mua bersama kamu. Allah bersa mamu Nak. Yakinlah, Dia akan se lalu menolong hamba-Nya yang ba ik dengan sesama dan percaya ak an kebesaran dan kasih sayang-Nya."
Sempat turun, beberapa hari kemu dian panas demamnya Maryam na ik lagi. Sempat tak sadarkan diri. Menggigil seperti orang yang ke dinginan.
Zainab yang setia menemaninya hanya bisa berdoa buat kesembu han Maryam, kakaknya. Agar bisa berdua lagi. Bercanda dan berbagi tugas bersama.
"Kak .."
"Kak Maryam."
Zainab mencoba menyadarkan Sa ng Kakak, meski itu sesuatu yang mustahil.
Allah berkehendak lain ...
Tangan Maryam tiba-tiba bergerak. Zainab terkejut, lalu dia memanggil Jenderal Mansur.
Sesampainya di kamar, mata Mar yam sudah terbuka. Dari mulutnya terucap sesuatu ...
"Ayah .."
Lemah sekali ...
"Anakku Maryam." Didekatkannya lah telinganya ke mulut Maryam.
"Ayah harus jaga Dik Zainab ya!"
"Ya Nak. Ayah berjanji."
"Mana Kolonel Mereka Ihsan Yah?"
"Ada. Sebentar," ucap Jenderal Man sur sembari meminta Zainab mema nggilkan Kolonel Ihsan yang bersia ga penuh bersama sebagian pasu kan di sekitar Al A'la.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar