Mang Kerio (131)
Oleh Wak Amin
DI rumah makan ...
"MBAK .. Mau pesan apa?" Tanya pegawai wanita rumah makan, ayu dan manis lagi.
"Sin. Hei. Ngelamun aja," tegur Sang Mama heran. Tak biasanya si anak melamun.
Ada apa ya?
"Tengok hidungnya Kak Hasan Ma," bisik Sinta.
"Ada apa dengan hidungnya?"
"Mancung kali Ma."
He he he ...
Karena ketawa, Mang Kerio tanya, ada yang lucukah. Jawab Yunita, ada.
Apa?
Kata Sinta, Mam, kenapa disebut ru mah makan, bukan rumah tempat makan.
"Ya saya jawab Kar. Kenapa diseb ut rumah makan dan bukan rumah tempat makan karena kalau yang terakhir disebut orang ramai-ramai bawa bekal dan menumpang ma kan di tempat ini ..."
Ha ha ha ha ...
Dilucu-lucuin aja deh.
Ngecik'i balak ...
"Saya," kata Sinta pada perempuan langsing tinggi semampai, "Pesan ayam bakar satu, ikan bakar satu, pindang patin satu, ikan tempoyak satu dan sate ayam, sate kambing serta ayam goreng."
Si pegawai menulis ...
"Sudah?"
"Sudah Mbak," jawab si pegawai. Bersiap menulis lagi.
"Sekarang sayurnya. Sayur nangka, sayur kacang panjang, sayur asem, kuwah tempoyak, sambal tempe, sambal tempe dan tahu, malbi, tu mis kangkung, gado-gado, urapan, dan ketoprak."
Si pegawai menulis lagi ..
"Sudah?"
"Sudah Mbak. Ada lagi?"
"Tentu. Tak usah takut Dik. Yang sudah lauk sama sayur. Sekarang minumannya."
"Baik Mbak, saya tulis."
"Oke. Untuk minumannya. Jus na ngka, jus apel, jus alpokat, juz buah naga dan jus pepaya. Eeem .. Lalu air teh hangat manis dan dingin, air putih mineral, es campur, es kacang merah, es fogan serta susu sapi asli."
Selesai ditulis ...
"Sudah Mbak?"
"Masih ada Dik. Terakhir ini. Cuci mulut ... Pepaya satu, semangka sebelah, jeruk manis empat, sele bihnya dua dua, yaitu apel, salak, duren, manggis, duku, anggur dan lemon."
Selesai ditulis ...
"Cukup Dik .."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar