Minggu, 09 Juni 2019

Peluk Aku Ya Allah (16)

Peluk Aku Ya Allah (16)
Oleh Wak Amin





MALAM semakin larut ...

Di luar tenda angin malam bertiup lambat. Bulan terang, meski bukan purnama. Hening.

Beberapa anggota pasukan pribumi berjaga-jaga di luar tenda. Mereka melakukan pengamanan ketat ter hadap Jenderal Mansur, Kolonel Ihsan, Maryam dan Zainab.

Tiba-tiba ...

Sebuah anak panah meluncur dari balik pepohonan, tepat menancap dada seorang prajurit yang berjaga-jaga di sekitar tenda.

Huuugh ..

Sempat mengerang kesakitan. Sebe lum akhirnya tewas. Seketika sege
nap pasukan siaga penuh. Jenderal Mansur diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Sementara Kolonel Ihsan dan Zain ab berbaur dengan pasukan melun curkan anak panah api melewati pe
pohonan.

Guaaam ...

Disusul suara tembakan. Mengge legar. Sambil mengambil langkah mundur, Kolonel Ihsan dan Kapten Adi terus mengorganisir pasukan.

Sebagian melindungi Jenderal Man sur dan Maryam, sebagian lagi me lancarkan serangan balasan ke ar ah pasukan pemberontak yang di pimpin Jenderal Komar.

"Serbuuuu ..!"

Teriak Sang Jenderal berapi-api se telah tahu lokasi persembunyian Jenderal Mansur. Dia tak pedulikan sebagian pasukannya tewas karena nekat menerobos desingan peluru dan anak panah.

Di kepalanya hanya ada dua kata: 'Mansur Mati.' Dia merasa yakin seterunya itu bakal tewas di tang annya pada tengah malam ini.

Dia sama sekali tidak tahu Jenderal Mansur sudah tidak ada lagi mar kas persembunyiaanya. Dia kini ber sama pasukannya tengah menuju ke sebuah tempat di Utara.

Jenderal Komar marah besar keti ka tak berhasil menemukan Jende ral Mansur di Al Hayat, markasnya pasukan pribumi.

Dia dan pasukannya mengobrak-abrik tenda dan gudang persenja taan yang sudah kosong sambil mengumpat tak karuan.

"Bakar semuanya!" Perintah Jende ral Komar dengan suara lantang dan bergetar karena marah.

"Pengecut kamu Jenderal Mansur. Puiih .." Berludah di atas batu yang bertuliskan 'Jenderal Mansur.'

Salah seorang anak buahnya, Ma yor Kandar, memberitahu kemung kinan besar Jenderal Mansur dan pasukannya menuju Utara.

"Sebab hanya satu-satu itulah jalan untuk ngacir Komandan," kata Mayor Kandar.

"Oke. Siapkan pasukan. Kita segera bergerak ke Utara."

"Siap Komandan!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar