Senin, 22 Oktober 2018

Dua Menara (34)

Dua Menara (34)
Oleh aminuddin




"BAGAIMANA dengan saya Tuan. Saya baru lihat televisi Tuan Husin tewas dibunuh orang tak dikenal," kata Pak Karta.

Ingin rasanywa menangis. Pasal nya, dia kini sendirian menghadapi kasus besar yang melibatkan diri nya dan  sang bos, Bos Husin.

"Tenang .. Tenang ya Pak. Tarik na fas ..." Ucap Tuan Chang dengan santainya.

Heh .. Heeeh ... Heeeh ..

Pak Karta tarik nafas tiga kali ..

"Gimana Pak Karta?"

"Sudah agak tenang, Tuan." Jawab Pak Karta, beralih tempat duduk, da ri semula di teras ke ayunan taman depan rumah.

"Sekarang, ceritakanlah semuanya Pak Karta .."

"Begini Tuan. Saya merasa Nyonya dan anaknya Zaitun sudah tahu siapa saya sebenarnya."

He he he ...

"Terlambat nyonyamu itu Pak Karta."

"Terlambat maksud Tua?" Heran Pak Karta. Terlambat apanya. Ter lambat memberitahu atau ...

"Dari dulu seharusnya nyonyamu itu sudah tahu siapa kamu sebe narnya. Bukan sekarang. Gimana Pak Karta ini ..."

He he he he ..

"Bukan itu maksudku Tuan. Nyonya sama anaknya .."

"Kenap Pak Karta?"

"Mereka mulai mencurigai saya."

"Curiga kenapa?"

"Saya terlibat atas tewasnya maji kan saya, Tuan Kadir, yang tak lain suami Nyonya."

"Buktinya apa Pak Karta?"

"Gera-gerik saya merasa diawasi," aku Pak Karta.

"Lalu?"

"Tidak seperti biasanya, kemarin saya tak disuruh-suruh oleh isteri almarhun majikan saya."

Tuan Chang menarik nafas panja ng. Dia hisap rokok cerutunya da lam-dalam.

"Tuan ... Tuan Karsa."

"Ya Pak Karta."

"Bagaimana dengan saya Tuan. Sa ya tak mau dlpenjara ..."

Ha ha ha ha ...

"Bapak tenang saja. Nanti akan sa ya kirim orang kesana. Menemui Pak Karta ..."












Tidak ada komentar:

Posting Komentar