Jumat, 26 Oktober 2018

Tumbal (7)

Tumbal (7)
Oleh aminuddin



Ini yang dialami oleh mereka yang dijadikan tumbal

INI kisah nyata ...

Ini kisah nyata yang terjadi di kota saya Rembang Jateng, nama dan alamat sengaja saya samarkan demi kenyamanan hidup yang bersangkutan.

Sebut saja Kartono, ia seorang pe muda umur sekitar 23 tahunan. Sehari hari ia hanya sebagai kuli panggul di toko sembako di kota Rembang, kerja dari jam tujuh  sam pai petang tanpa mengenal lelah demi menyambung hidup.

Tempoe dahoeloe  belum banyak yang kaya, hanya beberapa saja yang terlihat mapan, termasuk Ny Suharti ini.

Ny.Suharti ialah sang majikan Kar tono, berperawakan galak namun dingin, memiliki hampir tiga cabang toko kelontong di kota Rembang. Emas berkilauan menghiasi tubuh nya dari cincin sampai kalung bak toko perhiasan yang berjalan.

Kartono baru bekerja sekitar tiga bulan lamanya. Ia masuk dan be kerja di sana sebagai pengganti karyawan sebelumnya, tetangga nya sendiri yang meninggal menda dak saat jam makan siang di toko kelontong Ny Suharti.

Hari-hari ia jalani sebagaimana mestinya karyawan kuli panggul, dari pagi sampai petang begitu seterusnya , hingga suatu hari....

Saat jam makan siang yang diberikan majikannya , hari itu terasa berbeda dari yang biasanya, terasa mudah untuk membuat ter sedak.

Sudah berkali-kali minum air yang disodorkan teman temannya untuk mengurangi rasa tersedak, bukan malah menghilangkan sedak, rasa tersedak makin menjadi-jadi , hing ga membuat panik teman-teman nya.

Kartono limbung dan pingsan, diba walah ia ke puskesmas terdekat un tuk mendapatkan pertolongan. Pi hak puskesmas menyatakan Karto no sudah tidak bernyawa, Innalilla hi.....

Teman se-pekerja-nya heran , sekaligus masih belum bisa menerima kenyataan bahwa teman mereka meninggal hanya karena tersedak.

Allah Maha Kuasa mencabut nya wa dari mana saja, begitulah gu mam salah satu temannya nimb rung saat ikut melayat di rumah duka

---------------------------

Lain dunia ...

-------------------------

Kartono terbangun karena ditendang oleh sosok berperawakan tinggi besar dan hitam.

Ia dibentak oleh sosok yang belum pernah ia kenal sebelumnya apalagi tahu namanya.

"Bangun..!!" ikut saya......!!! "begitu bentakannya sambil menyeret kaki Kartono entah di mana, tempat ya ng belum pernah ia tahu sebelum nya, tidak ada pepohonan, semua serba warna kemerahan.

"Apakah ini di akhirat ? " Ia bertanya dalam hati, ingin sekali ia tanyakan kepada sosok yang menyeretnya namun ia urungkan sebab ia tak berani menatap muka yang seram dan kejam itu.

Selama perjalanan ia melihat bebe rapa jenis manusia lalu lalang de ngan tampang lelah, seperti ada yang memikul sesuatu, ada pula penarik kereta dan mengepel lantai.

Bahkan ada juga yang bertugas tiduran di depan WC hanya untuk menjadi keset, ada pula segerom bolan manusia yang di cambuki sampai berdarah-darah, dan bebe rapa wanita telanjang yang tugas nya melayani nafsu para iblis/ setan.

Kartono mendapat tugas sebagai pembersih WC ( jamban/toilet ). Jamban yang bentuknya aneh, belum pernah ia melihat jamban begitu besarnya.

Ia bekerja dari pagi sampai malam, makan cuma satu kali, itupun Kar tono nggak pernah mau memakan nya , karena yang dilihatnya bukan nasi tapi belatung. Namun orang- orang yang ada di situ lahap saja memakannya

ia baru nggeh dan sadar ternyata selama ini ia dijadikan tumbal oleh majikannya yang tak lain adalah Nyonya Suharti sendiri yang sam pai tega mevngorbankan karyawan nya demi kekayaan di dunia.

Tujuh hari sudah ia bekerja disitu , semua karyawan diam dan membi su. Tidak ada yang mengobrol apa lagi tanya ini itu.

 Tak dinyana ia melihat tentangga nya yang dinyatakan meninggal se belumnya. Hampir-hampir tak per/caya ia melihatnya, seseorang yang ia kenal akrab , sama-ama karya wannya Nyonya Suharti.

Tetangganya itu  bekerja menjadi penjaga pintu. Ingin sekali Kartono menyapanya namun apa daya , ia selalu di awasi oleh sosok besar yang siap kapan saja mencambuk tanpa ampun.

Kartono lalu teringat bahwa ia bisa membaca ayat kursi,  hafalan satu- satunya yang ia bisa, yang ia dapat saat mengaji waktu kecil dulu


Dibacalah ayat kursi itu , lalu blam...! secercah warna putih menyilaukan ruangan....

Kartono terbangun , melihat sekeliling pepohonan yang rimbun, ia sadar telah berpindah alam, puja dan puji syukur ia lantunkan kepa da Allah yang telah menyelamatkan hidupnya dari cengkraman perbudakan iblis.

Bergegaslah Kartono kembali pu lang ke rumah dengan pakaian com pang-camping dsn tubuh kurus se perti keadaan orang yang terjajah kompeni,

Sesampainya di rumah...

Satu desa langsung heboh, ramai sekali.  Banyak orang baik tetangga maupun dari desa sebelah berbon dong bondong mendengarkan ceri ta apa yang dialami Kartono.  Ba nyak yang percaya tapi tak sedikit yang bingung,

Salah seorang warga mencoba me nggali makam Kartono.

Makam digali...

MasyaAllah...!

Allahu Akbar..!

Orang-orang bertakbir disertai tangi san beberapa orang yang hampir- hampir tak percaya setelah melihat di lubang kuburan yang digali itu adalah PELEPAH PISANG (batang pohon pisang).

Kediaman Nyonya Suharti di geru duk warga , cacian dan makian terlontar begitu derasnya menghia si suasana saat itu.

Dengan pengawalan ketat kepoli sian dan aparat desa setempat wa jah Nyonya Suharti, yang biasanya terlihat sangar mendadak menjadi wajah ketakutan, digelandang ke kantor polisi untuk mempertang gung jawabkan perbuatannya.

Selang satu bulan kemudian, sete lah tersedak, Nyonya Suharti dika barkan meninggal dunia di lapas.

Entah meninggal sungguhan atau dibawa ke alam lain seperti tumbal nya yang lain, wallahu a'lam.




______

- Cerita di atas nyata dan pernah pula termuat di tabloid NYATA, dan majalah HIDAYAH,

- Blog-maspamot.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar