Dua Menara (35)
Oleh Wak Amin
PAK Karta senang mendengar nya ....
Sore itu, seperti biasa, dia menyi ram aneka bunga dan tanaman di pekarangan depan rumah.
Sementara Bu Hawiyah dan Lia me nyibukkan diri di dapur. Mereka me nyiapkan beragam jenis masakan untuk santap malam.
Saat itulah, sebuah mobil berhenti di luar pagar kediaman almarhum Pak Kadir.
Seorang laki-laki turun dari mobil. Tanpa curiga, Pak Karta mendekati pria berambut gondrong dan berpe nampilan rapi itu.
"Maaf Pak. Apa ini kediaman Pak Kadir .. Eem maksud saya isteri beliau Bu Hawiyah?"
"Betul sekali Mas. Ada apa ya kalau boleh saya tahu?" Tanya Pak Kar ta. Mulai cemas setelah dua lelaki tu run dari mobil bersenjatakan leng kap.
Mau ngacir dan berteriak minta to long, apa daya tak sempat dila ku kan Pak Karta setelah sebuah sen jata api kecil menempel di jidatnya.
Siap kokang ...
Siap tembak ...
"Keluar dan ikut kami," bentak pria berkumis tebal dengan mata melo tot tajam.
Kurang dari dua puluh detik kemu dian, Pak Karta sudah berada di dalam mobil.
Dia coba berteriak dan melakukan perlawanan. Tapi teriakan dan per lawanan itu tak berguna setelah ke palan tangan kekar lelaki asing itu secara bergantian menghantam muka da perutnya.
Akhirnya pingsan. Dia tak sadarkan diri sampai mobil jenis Panther itu tiba di sebuah gudang tua.
Di sana dia sudah ditunggu Tuan Chang. Pak Karta sempat geram, marah dan kecewa setelah sadar dan melihat sosok lelaki di depan nya tertawa terbahak-bahak.
"Tak sangka aku. Rupanya Tuan lebih jahat dari Tuan Husin."
Puiiih ...
Pak Karta meludahi mukanya Tuan Chang ketika yang bersangkutan mendekat dan hendak merangkul nya.
Praaak ...
Paaar ...
Tamparan keras Tuan Chang diba las Pak Karta dengan meludahi mu ka salah satu kolega Bos Husin ini.
"Keparat kamu Pak Karta. Rasakan ini ..."
Sudah dirasuki setan, Tuan Chang melepaskan pukulan bertubi-tubi ke kepala, perut, dada dan selangkang an.
Semua anak buahnya kaget.
Mereka tak berani menghentikan aksi brutal Tuan Chang ...
Mereka baru 'beraksi' setelah dimin ta Tuan Chang untuk membuang ja sad Pak Karta yang sudah tidak bernyawa lagi ke laut ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar