Rabu, 31 Oktober 2018

Kisah di Balik Berita (38)

Kisah di Balik Berita (38)
Oleh aminuddin







Melacak Riwu  Ga, Pembawa Terompet Proklamasi

TEROMPET Proklamasi, itulah gelar yang diberikan kepada Riwu Ga, pe muda asal NTT yang dengan berani dan nekad mengabari berita kemer dekaan pada masyarakat Kota Jakarta.

Belum banyak radio dan tak ada siaran langsung, sehingga praktis rakyat biasa mendengar berita kemerdekaan  dari mulut Riwu Ga.

Usai mengucapkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Bung Karno menggamit Riwu Ga, pembantu setianya.

Bawa bendera, keliling Jakarta dengan Jeep terbuka. Sebarkan pada rakyat Jakarta, kita sudah merdeka.  Jeep dikemudikan Sarwoko.

“Saya melambai-lambaikan bendera sepanjang jalan. Kami berhenti di tempat-tempat ramai. Rakyat berjubel  melihat kami, tentu mereka bertanya ada apa,” tutur Peter A  Rihi, sejarahwan juga wartawan senior sesuai hasil wawancaranya dengan Riwu Ga  kepada wartawan, Rabu (16/8/2017).


Saat itu memang tegang ..

Laksamana Maeda memberikan ke
sempatan untuk Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan.

Tapi Jenderal Yamamoto yang memimpin militer Jepang di Indonesia tidak mengizinkan.

“Beberapa kali Riwu Ga dicegat pasukan Jepang, tetapi dia sudah nekad. Ini perintah dari Bung Karno. Perhatian, perhatian, “Bangsa Indonesia sudah merdeka. Hari ini."

Semula mereka diam, seakan me nanti apa yang akan saya katakan lagi. Kita sudah merdeka saudara-saudara. Merdeka, Merdeka,” sam bil mengepalkan tangan saya ke atas.

Ucapan itu langsung mendapat sambutan : Merdeka, Merdeka,” cerita Riwu Ga kepada Peter.

Riwu sendiri mengatakan tidak tahu  mengapa Bung Karno meme rintahkan dia, bukan para pemuda atau prajurit PETA yang berseragam.

Rupanya Bung Karno ingin memberi arti bagi sahabatnya yang buta hu ruf itu yang telah setia menemani nya dalam berbagai derita selama perjuangan.

“Bung Karno tidak pernah menjelaskan, dan Riwu Ga pun tidak pernah bertanya,”  kata Peter.

Lama Riwu Ga menutup diri ...

Jejaknya pun sukar  dilacak. Dari Flores, Riwu saya mencari sampai ke pulau Sabu.

Ternyata Dia menyendiri di ladang jagungnya  di tengah  hutan ge wang, jauh di daratan pulau Timor.

Setelah bersusah payah  ditemukan dia pun semula tidak mau bicara, ka rena dia tidak ingin melanggar janjinya pada Bung Karno dan pada dirinya sendiri untuk tidak mengum bar peranannya selama mengikuti Bung Karno di pembuangan Ende sampai ke Bengkulu, dan berakhir pada detik proklamasi di Jl.Pegangsaan.


Walau namanya disebut-sebut da lam buku Ibu Inggit Garnasih dan Cindy Adams, namun ssosok ini hi lang bagai di telan bumi.

Banyak yang menyangka Riwu Ga telah tiada ...

“Sebagai wartawan saya tak putus asa melakukan investigasi dari pu lau ke pulau, karena hanya dia yang paling dekat dengan Bung Karno selama masa perjuangan sampai proklamasi,” imbuh Peter.

Akhirnya, pada bulan Agustus 1991 lewat pendekatan tradisional, de ngan membawa  sirih pinang dan mengucapkan permintaan dalam  bahasa Sabu yang halus dan  sak ral, bahwa dalam kepercayaan adat, orang tua berkewajiban mengisah kan pengalamannya pada para ke turunannya.


Itulah peran sejarah yang dituturkan dari generasi ke generasi ...

Ia memang menyimpan  banyak kenangan selama 14 tahun mengi kuti Bung Karno. Itulah sebabnya Bung Karno meminta penulis biog rafinya, Cindy Adams untuk melaku kan konfirmasi semua data dan in formasi pada Riwu Ga.

Tidak ada orang lain yang lebih dekat dengan  Bung Karno pada masa- masa yang berat seperti itu, kecuali Inggit Garnasih dan Riwu Ga.

Setelah itu ia membisu pulang kampung halaman dan tidak pernah menceritakan pengalaman nya kepada siapapun, juga pada istri dan anak-anaknya, para te tangga, apalagi pemerintah daerah.

Satu-satunya upacara 17 Agustus yang pernah diikutinya adalah saat Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, lalu ia disuruh oleh Bung Karno  berkeliling  Jakarta menyebarkan berita kemerdekaan pada warga jelata Jakarta.

Setelah itu ia tidak pernah diunda ng hadir dalam upacara HUT Prok lamasi, karena dia hanya orang kecil yang tak dikenal.

Riwu Ga meninggal pada usia 78 tahun,  tepat pada saat upacara penurunan bendera merah putih, senja hari 17 Agustus 1996, atau tepat  51 tahun ketika ia berkeliling kota  Jakarta menyebarkan berita kemerdekaan.

Ia lahir di Desa Depe, dekat Kota  Seba  di Pulau  Sabu NTT yang ter letak di batas Samudera  Hindia.

Adalah Chritofel  Kana, dosen Uni versitas  Nusa Cendana yang mem bantu melacak jejak  Riwu Ga   dan Yusak Riwu Rohi, kini Direktur Hari an Timor Express yang berjasa da lam melakukan pendekatan tra disional agar  Riwu Ga  mau mem buka suara.

“Banyak yang kemudian mengutip ucapan-ucapan Riwu Ga, tanpa menyebut sumber, padahal usai proklamasi hanya wartawati Ame rika Serikat Cindy Adams dan saya yang pernah mewawancarai Riwu Ga, yang semasa mengikuti Bung Karno menjalankan berbagai tugas, sebagai pelayan dan juga penga wal. Tentu lebih berat mengawal seseorang yang kemudian menjadi proklamator dan presiden dari pada mengawal seorang yang telah men jadi presiden sesudah itu,” papar Peter. (Amar Ola Keda)














___

Balinese network.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar