Kisah di Balik Berita (7)
Oleh aminuddin
KISAH EMPAT ...
KISAH wartawan ini datang dari negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Seperti diketahui soal dunia jurnalistik, Amerika punya tradisi yang panjang. Bahkan negeri ini selalu jadi rujukan ketika bicara soal bagaimana sebuah karya jurnalistik bermutu dilahirkan.
Banyak wartawan dari negeri Pa man Sam yang jadi panutan warta wan negeri lain. Ya, Indonesia pun sebenarnya banyak memiliki warta wan-wartawan hebat. Tidak kalah hebat dengan warta wan negara lain termasuk Amerika.
Rosihan Anwar, Goenawan Mohamad, Andreas Harsono, Karni Ilyas adalah beberapa nama wartawan hebat yang dipunyai negeri ini.
Di Amerika sendiri ada ajang Pulitzer, sebuah ajang penghargaan di bidang jurnalistik yang paling bergengsi di Negari Paman Sam.
Siapa pun yang dapat Pulitzer akan dicap sebagai wartawan hebat. War tawan yang layak jadi panutan. Pulitzer sendiri diberikan kepada wartawan yang liputannya dianggap bermutu.
Nah, salah satu yang dapat peng hargaan bergengsi itu adalah Chris topher John Chivers. Dia wartawan dari koran terbesar Amerika Serikat, New York Times.
Kisahnya saat melakukan liputan layak dijadikan contoh, terutama bagi mereka yang memang ingin jadi wartawan hebat.
Kisahnya begini...
Bulan September 2001.adalah bulan dan tahun terkelam bagi rakyat Amerika Serikat. Pada bulan itu, tepatnya 11 September, terjadi sebuah tragedi yang akan terus diingat oleh bangsa Amerika.
Tragedi yang memilukan, yang membuat seluruh bangsa Amerika menangis dan marah. Tragedi itu terjadi pada tanggal 11 September 2001.
Saat itu dua pesawat dibajak. Satu pesawat dibajak lalu ditabrakkan ke menara World Trade Center atau lebih dikenal dengan sebutan menara WTC.
Gedung yang jadi salah satu simbol bisnis di Amerika pun runtuh, bersa ma penumpang pesawat dan orang orang yang ada di dalam gedung ke tika itu. Ribuan orang meninggal dunia.
Christopher John Chivers adalah salah satu wartawan New York Times yang saat tragedi itu terjadi, sedang berada tak jauh dari tempat kejadian.
Instingnya sebagai wartawan lang sung bekerja. Saat itu, sebenarnya dia ditugaskan untuk bertemu de ngan panitia pemilihan wali kota New York. Tapi, keburu tragedi itu terjadi.
Ia pun langsung menghubungi editornya. Tapi telepon selulernya tak berfungsi. Jaringan buruk ketika itu. Lewat telepon umum akhirnya dia berhasil menghubungi kantornya. Oleh editornya dia diperintahkan bekerja sesuai instingnya.
Christopher pun menghabiskan waktu 24 jam penuh di TKP. Bahkan kakinya sempat terluka.
Christopher, sebelum menjadi warta wan, dia adalah seorang tentara marinir. Pangkat terakhirnya kapten. Dia pernah dikirim saat perang Teluk meletus. Tapi cita-citanya memang jadi penulis atau wartawan.
Setelah tak jadi serdadu, Christopher benar-benar jadi wartawan. Karir pertamanya di Koran Providence Journal.
Kembali ke kisah Christopher, saat meliput tragedi 11 September. Setelah melaporkan, dia sempat datang ke kantornya. Tapi setelah itu, dia pergi lagi ke lokasi kejadian. Ia ganti pakaian dengan kaos yang bertuliskan US Marines. Celananya pun ia ganti, dengan celana jeans.
Memakai sepatu boot, dia pun segera meluncur ke tempat kejadian.
Sebelum berangkat, dia membawa bekal kopi. Di sana, ia berpura-pura jadi sukarelawan. Tidak ada yang curiga. Ia pun bisa masuk ke pusat peristiwa. Bahkan dia dapat kartu identitas dari otoritas keamanan yang bertugas di sana. Dengan leluasa, ia pun bisa keluar masuk tempat kejadian.
Berhari-hari Christopher ada di tem pat kejadian. Tidur pun, sembarang tempat. Dia mengandalkan kertas sisa untuk menulis laporannya.
Total 12 hari, ia habiskan di pusat ledakan. Sungguh sebuah dedikasi pada tugas yang sangat menga gumkan.
Laporannya dari tempat kejadian kemudian dimuat di halaman utama New York Times.
Laporannya sangat memikat. Dan atas jerih payah serta totalitasnya dalam bekerja, tulisannya diganjar penghargaan Pulitzer. Sebuah peng hargaan paling ber gengsi bagi kalangan wartawan di Amerika Serikat.
____
Vebma.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar