Minggu, 21 Oktober 2018

Tipu Daya Iblis (6)

Tipu Daya Iblis (6)
Oleh aminuddin





Dialog Iblis dan Manusia

SYAHDAN, di zaman yang sudah modern ini, masih ada seorang ka kek tua yang diberi kelebihan mam pu melihat dan berkomunikasi de ngan bangsa Iblis.

Suatu hari beliau kedatangan tamu dari bangsa Iblis. Mereka pun melakukan dialog ..

Wahai manusia, bangsa kami adalah makhluk terbaik yang diciptakan oleh Tuhan. Kami bisa merubah diri menjadi bentuk apa pun yang kami suka. Kami terbuat dari unsur api yang jelas-jelas lebih mulia dibanding tanah.” buka Iblis.

“Wahai Iblis, Al-Quran telah menje laskan bahwa manusia adalah makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah SWT dan diberi amanah sebagai khalifah di bumi. Nenek moyang kami Nabi Adam as telah membuktikannya. Nenek moyang anda bahkan waktu itu disuruh oleh Allah SWT untuk bersujud kepada Adam. Itu menunjukkan bahwa bangsa kami lebih baik dari pada makhluk selain kami.” Sahut kakek tua.

Merasa tidak terima dengan pernyataan kakek tua, Iblis menantang kakek tua untuk berkompetisi menentukan bangsa mana yang lebih baik, apakah manusia atai iblis.

Kakek tua dengan senang hati menerima tantangan Iblis. Kakek tua justru merasa senang dengan tantangan itu karena sekaligus bisa memberi pelajaran kepada Iblis.

Mereka berjalan menyusuri trotoar. Kendaran serta orang berlalu lalang di tengah hiruk pikuknya suasana di jalan raya.

Mereka bertemu dengan seorang pemuda yang sedang bersedih. Belakangan diketahui pemuda tersebut baru saja diputusin sama pacarnya.

Melihat mengsa yang empuk, Iblis meminta izin untuk menunjukkan terlebih dahulu kehebatannya di ha dapan si kakek tua. Kakek tua pun mempersilahkan.

Iblis mendekati pemuda malang itu. Iblis masuk ke alam bawah sadar si pemuda dan membisikkan kata-kata dan rayuan-rayuan.

Iblis merayu pemuda agar minum alkohol. Iblis memberi iming-iming bahwa jika minum alkohol akan menenangkan pikiran.

Pemuda malang tersebut seperti kerbau dicocok hidungnya, menu ruti saja apa yang diperintah oleh Iblis.

Pemuda tadi tanpa ragu membeli alkohol dan langsung meminum nya. Akalnya tambah kacau. Otak nya tidak mampu berpikir jernih.

Melihat pemuda yang sudah diku asai oleh minuman, Iblis melaku kan langkah kedua. Iblis merayu pemuda agar mendatangi si gadis yang telah memutuskannya untuk membalaskan sakit hatinya.

Secepat kilat pemuda tadi berjalan menuju rumah kekasihnya itu. Dia masuk tanpa sepengetahuan tuan rumah.

Kebetulan rumah kekasihnya seda ng sepi dan tidak dikunci. Dia ma suk rumah dan melihat kekasihnya sedang terkulai manja di atas tem pat tidur.

Kekasihnya sedang tidur dengan posisi yang cukup membuat lelaki berdesir.

Iblis melanjutkan siasatnya. Iblis merayu pemuda agar segera menikmati tubuh kekasihnya yang sangat aduhai itu.

Mumpung dia sedang tidur, ini waktu yang pas untuk merasakan keindahan tubuh kekasih sekaligus membalaskan sakit hati, begitu bujuk Iblis.

Pemerkosaan pun terjadi di rumah kekasih pemuda tadi. Perempuan malang tadi sudah tidak berdaya dan hanya bisa pasrah.

Setelah pemuda itu puas memper kosa sang kekasih, Iblis membujuk pemuda tadi untuk membunuh ke kasihnya. Kali ini dengan alasan jangan sampai nanti ada yang me nikmati tubuh kekasihnya lagi. Tanpa panjang lebar, kekasihnya kemudian dicekik hingga mati.

Saat itu, kakaknya kekasih kebe tulan pulang dari kampus. Melihat adiknya dibunuh dan diperkosa oleh pemuda, amarahnya seketika memuncak.

Dia mengambil pisau di dapur dan tanpa ragu menusukkan di perut pemuda yang telah memperkosa adiknya hingga meninggal.

Dua pembunuhan terjadi dalam waktu yang singkat. Dan akhirnya, kakaknya kekasih tadi harus mepertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.

Dengan pongah, Iblis berkata kepada kakek tua tadi.

“Lihat, dalam sekejap, saya mampu membuat orang meminum alkohol, memperkosa wanita, membunuh, dan menjebloskan orang ke penjara. Bukankah ini membuktikan saya lebih hebat dibanding engkau wahai kakek tua?”

“Belum tentu. Sekarang mari akan saya tunjukkan kehebatan saya.” Jawab Kakek tua dengan tenang.

Kakek tua mengajak Iblis untuk me ngarahkan perjalanannya ke sebu ah toko perhiasan. Kakek tua mene mui penjual perhiasan.

“Saya ingin membeli cincin yang paling mahal dan bagus untuk anak saya”. Kata si kakek tua.

“Oh bisa Kek, tapi mengapa bukan anaknya yang membeli langsung saja?” Sahut pedagang.

“Saya lelaki tua. Saya seperti pembantu di rumah anak saya. Saya harus mematuhi apa yang dia perintahkan.”

“Anak sendiri kok seperti itu Kek? apa dia tidak takut dosa?”

“Sejak dia bekerja di sebuah perusahaan besar, dia memang berubah. Dia bahkan berpacaran dengan perempuan yang sudah bersuami. Cincin ini akan dia hadiahkan kepada pacarnya.”

“Kalau begitu, cincin ini kakek bayar setengah saja ya”.

“Tidak mau. Anak saya menginginkan nota pembelian karena akan disertakan dengan cincin tadi sebagai bukti bahwa harga cincin itu mahal.”

“Gampang Kek. Kakek bayar sete ngah harga, nanti saya buatkan no ta sebagaimana harga aslinya”

“Terima kasih nak, semoga Allah SWT membalas kebaikanmu. Kalau boleh, saya minta alamat anda, biar suatu saat saya bisa bersilaturahmi dengan anda.”

“Dengan senang hati Kek, ini cincin beserta nota serta kartu nama saya. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk kakek. “

“Terima kasih”

Kakek mohon pamit kepada pedagang dan melanjutkan perjalanan menuju rumah padagang perhiasan tadi.

Di sana, dia bertemu dengan istri pedagang dan kemudian minta izin untuk numpang shalat. Dengan senang hati istri pedagang mempersilahkan si kakek tua untuk shalat.

Saat istri pedagang sedang lengah, dengan cepat kakek tua memasukkan cincin beserta notanya di lemari baju milik istri dan pedagang tadi.

Beruntung, lemari ternyata tidak dikunci. Setelah shalat, kakek tua mohon pamit dan berterima kasih atas kebaikan istri pedagang.

Sore hari, waktunya pedagang cincin pulang ke rumah. Betapa terkejutnya dia melihat ada cincin dan nota yang dibeli oleh kakek tua tadi.

Amarahnya langsung memuncak. Ternyata selama ini istrinya seling kuh dengan anak kakek tua tadi.

Tanpa memberi kesempatan berbi cara untuk istrinya, pedagang tadi langsung mengusir istrinya dari ru mah.

Istrinya kebingungan dan hanya bisa menangis sedih meratapi na sib yang meimpanya. Dia pun pulang ke rumah orang tuanya.

Esoknya, kakek tadi kembali datang ke rumah pedagang. Dia menemui pedagang dan meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada si pedaga ng.

Dia mengatakan bahwa kemarin dia menumpang shalat dan lupa menaruh cincin dan nota di lemari pakaian istrinya.

Kakek tua mengakui bahwa dia sering lupa. Dia menganggap seolah-olah sedang di rumah sendiri sehingga lupa menaruh cincin dan nota di lemari istrinya.

Akhirnya dia meminta izin untuk mengambil kembali cincin dan notanya itu.

Hati pedagang sungguh tidak ka ruan. Ada rasa marah, sesal, dan bersalah terhadap istrinya.

Ternyata istrinya bukan pacar dari anak kakek tadi. Ternyata istrinya tidak selingkuh.

Saat itu juga, dengan hati yang pe nuh penyesalan, si pedagang lang sung pergi ke rumah istrinya untuk meminta maaf dan menjelaskan persoalan semuanya.

Dan untungnya, istrinya mau men dengarkan penjelasan suaminya dan mau memaafkan. Kehidupan rumah tangga mereka kembali sakinah, mawaddah, warahmah.

Setelah itu, kakek tua berkata kepada Iblis :

“Lihat kehebatanku ! Saya bisa membuat perseteruan diantara dua orang yang tidak bersalah. Saya bi sa memutus tali kasih sayang se buah keluarga, padahal mereka ti dak bersalah sama sekali. Saya pun juga mampu mengikat kembali tali yang telah terputus.”

“Sedangkan engkau? Engkau bisa membuat seseorang memperkosa, membunuh, dan menjebloskan ke penjara. Namun engkau tidak bisa mengembalikan keperawanan pe rempuan yang telah diperkosa, anda juga tidak mampu mengembalikan nyawa manusia yang terbunuh. Ini menjadi bukti bahwa bangsa kami lebih baik dibanding bangsa engkau.”

Karena merasa telah dipermalukan oleh kakek tua, Iblis pergi begitu saja tanpa mengatakan sesuatu kepada kakek tua.

Dengan kesombongan yang telah melekat dan mengakar kuat, sam pai kapan pun iblis tidak akan per nah mengakui bahwa bangsa ma nusia lebih hebat dari bangsa me reka meskipun relitanya dia baru saja dikalahkan oleh manusia.







______
seword.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar