Kamis, 10 Januari 2019

Peran dan Fungsi MKTI Sumsel (3)

Peran dan Fungsi MKTI Sumsel (3)
Oleh aminuddin

- Menghilangkan Kebiasaan Ladang Berpindah-pindah
Bagi masyarakat petani harus dihindari pembukaan lahan hutan untuk pembuatan ladang yang berpindah-pindah. Ini juga salah satu penyebab kerusakan hutan yang mungkin masih sering terjadi terutama di daerah-daerah terpencil, di wilayah Sumsel.

- Kebiasaan Menanam Pohon Masyarakat terutama generasi muda diharapkan mempunyai kebiasaan menanam pohon di lingkungan tempat tinggalnya. Baik di pekarangan rumah atau di pinggir-pinggir jalan desa.

Kebiasaan ini perlu dipupuk sejak dini. Memang sulit hal ini diterap kan di daerah perkotaan. Tapi kebiasaan ini masih bisa diterapkan di desa-desa dan digalakkan untuk masyarakat desa.

- Menjaga Lingkungan Hidup, Menghemat Air Bersih dan Daur Ulang
Masyarakat juga diminta untuk menjaga lingkungan tempat tinggal dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Menghemat penggunaan air bersih dan tidak mencemari sumber-sumber air bersih seperti sungai dan danau dan lain-lain.

Masyarakat juga harus kreatif memanfaatkan teknologi daur ulang untuk menjadikan sampah-sampah organik sebagai pupuk dan juga menggunakan kertas daur ulang guna menghindari penggunaan kertas.


Permasalahan Konservasi Tanah dan Air

Beberapa permasalahan dalam bidang Konservasi Tanah dan Air tergolong kompleks.

Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kerusakan lahan dan air di wilayah kita, antara lain sebagai berikut :

a. Faktor Alami Penyebab Erosi
Secara alami proses erosi pasti akan terjadi, hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor alami yang berpengaruh dan biasanya sulit diatasi.

Beberapa faktor alam tersebut adalah sebagai berikut :

1. Faktor iklim (curah hujan) yang tinggi baik kuantitas maupun kualitasnya

2. Faktor lereng yang bervariasi dan mulai landai sampai sangat curam

3. Faktor internal tanah yang peka erosi, terutama terkait dengsn sifat dan karakteristik tanah itu sendiri.

Data BMG menunjukkan bahwa sekitar 23,1% luas wilayah Indonesia memiliki curah hujan tahunan > 3.500 mm, sekitar 59,7% antara 2.000-3.500 mm, dan hanya 17,2% yang memiliki curah hujan tahunan < 2.000 mm.

Dengan demikian, curah hujan merupakan faktor pendorong terhajadinya erosi berat, dan mencakup areal yang luas. Lereng merupakan penyebab erosi alami yang dominan di samping curah hujan.

Sebagian besar (77%) lahan di Indonesia berlereng > 3% dengan topografi datar, agak berombak, bergelombang, berbukit sampai bergunung.

Lahan datar (lereng < 3%) hanya sekitar 42,6 juta ha, kurang dari seperempat wilayah Indonesia (Subagyo et al. 2000).

Secara umum, lahan berlereng (> 3%) di setiap pulau di Indonesia lebih luas dari lahan datar (< 3%).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar