Jumat, 11 Januari 2019

Peran dan Fungsi MKTI Sumsel (4)

Peran dan Fungsi MKTI Sumsel (4)
Oleh aminuddin




b. Praktek Pertanian yang Kurang Bijak
Tingginya desakan kebutuhan terhadap lahan pertanian menyebabkan tanaman semusim tidak hanya dibudidayakan pada lahan datar, tetapi juga pada lahan yang berlereng > 16%_ yang seharusnya digunakan untuk tanaman tahunan atau hutan.

Secara keseluruhan, lahan kering datar berombak meliputi luas 31,5 juta ha (Hidayat dan Mulyani 2002), namun penggunaannya diperebutkan oleh pertanian, pemukiman, industri, pertambangan dan sektor lainnya

Pada umumnya, daya saing petani dan pertanian lahan kering jauh lebih rendsh dibanding sektor lain, sehingga pertanisn terdesak ke lahan-lahan berlereng curam, kondisi seperti ini juga terjadi di wilayah Sumsel.

Laju erosi tanah meningkat dengan berkembangnya budidaya pertanian yang tidak disertai penerapan tek nik konservasi, seperti pada sistem perladangan berpindah yang banyak dijumpai di beberapa dataran tinggi Sumsel.

Bahkan pada sistem pertanian menetap pun, penerapan teknik konservasi tanah belum merupakan kebiasaan petani dan belum dianggap sebagai bagian penting dari pertanian.

c. Faktor Kebijakan dan Sosial-Ekonomi
Rendahnya adopsi teknologi konservasi bukan karena keterbatasan teknologi, tetapi lebih kuat disebabkan oleh masalah nonteknis.

Kondisi seperti ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Hudson (1980) menyatakan bahwa meskipun masih ada kekurangan dalam teknologi konservasi dan masih ada ruang untuk perbaikan teknis, hambatan yang lebih besar adalah masalah politik, sosial dan ekonomi.

Kebijakan dan perhatian pemerintah sangat menentukan efektivitas dan keberhasilan upaya pengendalian degradasi tanah.

Namun, berbagai kebijakan yang ada belum memadai dan efektif, baik dari segi kelembagaan maupun pendanaan.

Selaras dengan tantangan yang dihadapi, selama ini prioritas utama pembangunan pertanian lebih ditujukan pada peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi secara makro, sehingga aspek keberlanjutan dan kelesta rian sumber daya lahan agak ter tinggalkan. Padahal aspek tersebut terdampak jangka panjang bagi pembangunan pertanian di masa mendatang.

Selain kurangnya dukungan kebijakan pemerintah, masalah sosial juga sering menghambat penerapan konservasi tanah, seperti sistem kepemilikan dan hak atas lahan, fragmentasi lahan, sem pitnya lahan garapan petani, dan tekanan penduduk.

Kondisi ekonomi petani yang umumnya rendah sering menjadi alasan bagi mereka untuk menga baikan konservasi tanah.

Konservasi lahan pertanian sering disebabkan oleh faktor ekonomi petani, yang memaksa mereka menjual lahan walaupun mengakibatkan hilangnya sumber mata pencaharian (Abdurachman 2004).

Selain faktor alami, terjadinya keba karan hutan dan lahan terutama ter kait dengan lemahnya peraturan sis tem perundang-undangan. Faktor teknis dan ekonomi juga menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan dengan alasan mudah dan murah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar