Rumayok (4)
Oleh Wak Amin
"NAH, mak itu Pak Bendot. Itu baru namanya Pak Bendot," cakdu baibai buwok tojang kariting.
"Hidup Pak Bendot!"
"Hudup juga," jawabdu Pak Bendot.
"Hidup Pak Bendot!"
"Ya, aku hidup. Belum mau mati."
Ha ha ha ha ...
Lima mitir jak kalangan, tiyan pak sa ompai cawa ...
"Aku takut sekali San," cakdu Qosim sambil nganik karupuk ngorup-ngo rup.
"Kan Daud yang berkelahi. Kenapa kamu yang takut Sim."
"Yang kutakutkan itu Ron, bukan soal Daudnya. Tapi warga yang menonton itu ..."
"Maksud kamu mengeroyok kita?"
"Bukan cuma itu. Bisa-bisa mobil kita babas bingkas karena ulah mereka."
"Aku juga sempat berpikir begitu Sim," cawadu Hasan. "Cuma kare na ada bapak tukang parkir itu, aku merasa aman sedikitlah."
"Ya sudahlah," cakdu Daud," Yang penting kita harus tetap semangat dan tetap meneruskan perjalanan ini. Setuju?"
"Setuju komandan!"
Kriiing ...
Telepon seluler Hasan bubunyi. Ru pana jak indokna Hasan ...
"Kamu baik-baik saja kan Nak?" Ta nya si umak pocak gamiwang. Ra bai kintu si maranai lobon.
"Alhamdulillah Mam. Berkat doa Mama kami berempat sampai saat ini tetap sehat dan baik-baik saja."
"Alhamdulillah juga. Jaga diri baik-baik. Jangan ngebut."
"Ya Mam."
"Jangan suka jahil sama cewek."
"Ya Mam."
"Kalau malam istirahat. Cari penginapan ..."
"Ya Mam."
"Jangan telat makan."
"Ya Mam."
"Duit masih ada?"
"Masih Mam. Belum diapa-apain Mam."
"Kenapa?"
"Belum laper Mam ..."
"Ooo ya sudah. Hati- hati ya Nak. Daaagh."
"Ya Mam. Dadaagh juga."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar