Strategi Pemanfaatan Lahan Basah (8)
Oleh aminuddin
h1. Kawasan Industri
Daerah perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan nilai jual tanah yang sangat ma hal menjadikan kegiatan industri dan penanganan limbah merupa kan masalah yang tidak seder hana.
Mengingat penduduk daerah rawa masih jarang atau bahkan belum ada sama sekali penduduknya ser ta masih murahnya harga tanah tentu cukup banyak pengemba ngan kawasan industri di sana.
Selain itu, tempat pembuangan sampah akhir, lokasi penimbunan batu bara untuk pengapalan lewat transportasi air, banyak juga yang berlokasi di daerah rawa.
Masalah pemanfaatan dan pengelo laan lahan rawa untuk industri dan pengelolaan limbah akan muncul jika pola dan prosedur di lahan keri ng diterapkan begitu saja tanpa per baikan di lahan rawa yang cende rung mempunyai muka air tanah yang tinggi bahkan tergenang.
Tempat pembuangan sampah akhir di lahan rawa misalnya tidak dapat menggunakan sistem pembuangan terbuka (open dumping) tetapi seba iknya menggunakan sistem tertutup (sanitary landfill).*
Daerah lahan basah/rawa yang lu as, sebagai contoh Delta Musi dan Banyuasin serta wilayah pesisir nya, diadministrasikan di bawah suatu kecamatan, misalnya Banyuasin I (seluas 701.38 km2) dan Banyuasin II (2.681,28 km2).
Wilayah administrasi ini biasanya tidak sama dengan wilayah eko logis daerah rawa itu sendiri. Ting kat kekuatan pengelolaan dan pe ngawasan kawasan rawa yang sangat luas ini pada kenyataannya sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas pelayanan masyarakat dan pembangunan.
_____
*
UMUMNYA sampah di negara ber kembang ditampung kemudian di angkut dan dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA). Peningkatan jumlah populasi akan mempengaruhi jumlah sampah yang dihasilkan karena semakin banyak populasi semakin tinggi pula kegiatan yang dilakukan.
Hal ini akan menyebabkan residu atau sampah yang dihasilkan semakin banyak.
Kegiatan yang dilakukan masyarakat tergantung dari pendapatan (affluence) yang diperoleh. Pendapatan tersebut digunakan untuk konsumsi masyarakat.
Semakin tinggi pendapatan akan semakin tinggi pula konsumsi masyarakat, sehingga volume sampah yang dihasilkan akan meningkat.
Selain itu, pengolahan sampah juga akan mempengaruhi volume sam pah yang dihasilkan. Teknologi yang digunakan dalam pengolahan sampah akan mengurangi volume sampah jika pengolahannya optimal.
Namun, jika pengolahan sampah kurang optimal maka volume sampah akan tetap meningkat.
Sanitary landfill merupakan lahan urug yang telah memperhatikan aspek sanitasi lingkungan. Sampah diletakkan pada lokasi cekung, kemudian sampah dihamparkan hingga lalu dipadatkan untuk kemudian dilapisi dengan tanah penutup harian setiap hari akhir operasi dan dipadatkan kembali setebal 10% -15% dari ketebalan lapisan sampah untuk mencegah berkembangnya vektor penyakit, penyebaran debu dan sampah ringan yang dapat mencemari lingkungan sekitarnya.
TPA dengan system Sanitary Landfill di Indonesia sesungguhnya belum dilakukan dengan baik, justru cenderung berubah ke TPA Open Dumping.
TPA dengan metode open dumping adalah menumpuk sampah terus hingga tinggi tanpa dilapisi dengan lapisan geotekstil dan saluran lindi.
Pada sistem terbuka (open dumping), sampah dibuang begitu saja dalam sebuah tempat pembuangan akhir tanpa ada perlakuan apapun.
Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kurnan penyebab penyakit dapat berkembang biak.
Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar.
Cairan yang tercampur dengan sampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air. Bersama rembesan cairan tersebut, dapat terbawa zat-zat yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
Berikut adalah dampak yang diakibatkan oleh sistem Open Dumping:
1. Dampak bagi lingkungan.
Lindi merupakan limbah cair yang berasal dari sampah basah atau sampah organik yang terkena air hujan. Jika lindi tersebut tidak ditata dengan baik, maka dapat menyebar ke dalam tanah dan masuk ke aquifer air tanah yang dapat menyebabkan pencemaran air tanah.
2. Penyumbatan badan air.
Cairan yang dihasilkan akibat proses penguraian (leachate) dapat mencemari sumber air.
Lahan yang luas akan tertutup oleh sampah dan tidak dapat digunakan untuk tujuan lain.
Gas yang dihasilkan dalam proses penguraian akan terperangkap di dalam tumpukan sampah dapat menimbulkan ledakan jika mencapai kadar dan tekanan tertentu.
Sungai dan pipa air minum mungkin teracuni karena bereaksi dengan zat-zat atau polutan sampah.
3. Dampak bagi manusia.
Lindi mengandung zat-zat berbahaya bagi tubuh seperti adanya kandungan Hg, H2S, tergantung jenis sampah yang dibuang di TPA tersebut.
Merupakan sumber dan tempat perkembangbiakan organisme penyebar penyakit.
Di sebagian besar negara maju, penimbunan sampah dengan metode open dumping telah banyak digantikan oleh metode sanitary landfill.
Namun, di Indonesia, tempat penimbunan sampah yang menggunakan metode Sanitary Landfill masih jauh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan melakukan penimbunan terbuka (open dumping). (Sampahpenge lolaan.blogspot.com > tpa-o ..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar