Rumayok (16)
Oleh Wak Amin
JUK sipa tiyan maranai rik moulisa?
"Mang Agus," cakdu Mbak Thea. "Boleh kami menginap semalam disini?"
"Boleh Dik. Silakan," cakdu Mang Agus. Mak kabiyakan makwat. Is tilahnana, mongan mak mongan sai ponting ngumpul.
"Soalnya saya lihat mereka belum pulih betul. Mungkin butuh pemuli han barang seharilah," jolas Mbak Thea.
"Sebaiknya memang begitu. Mama ng sendiri kuatir kalau mereka te tap meneruskan perjalanan hari ini. Selain belum pulih, mobil mereka sepertinya perlu diperiksa. Mana tau ada yang rusak. Tapi tak usah cemaskan itu. Mamang bisa mem perbaikinya jika memang ada yang rusak,' torang Mang Agus.
"Terima kasih Mang."
"Eeem ... Ngomong-ngomong, tujuan kalian sebenarnya mau kemana?"
"Kami mau ke Desa Waru," cawadu Mbak Thea.
"Desa Waru? Eeem sebentar. Kalau tak salah itu ... desa sedikit angker Dik Thea. Tapi mudah-mudahan ucapan mamang salah," cakdu Mang Agus.
"Mereka juga? Maksud mamang, yang laki-lakinya?"
"Tidak Mang. Kami beda yang ditu ju, tapi satu arah jalannya."
"Ooo begitu." Mak uniga, luwahda anggomandu Mang Agus jak sang kolak.
Kok waktuna 'makan siang." Pas nihan jam ruwa bolas.
Panas di luvwah, ngison di lom lambahan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar