Rabu, 16 Januari 2019

Strategi Pemanfaatan Lahan Basah (9)

Strategi Pemanfaatan Lahan Basah (9)
Oleh aminuddin



Kendala Pengembangan dan Pengelolaan Lahan Basah

1. Terbatasnya ketersediaan data primer dan sekunder yang terkini dan dapat diakses secara cepat.

Data dan informasi tentang desa-desa yang ada (misalnya: peta desa, jumlah desa, jumlah penduduk, potensi desa, mata pencaharian penduduk, tingkat kesejahteraan penduduk) relatif sulit diperoleh secara cepat.

Pembaruan data dan informasi ini masih dirasakan sangat lambat. Ke tersediaan data dan informasi ini masih bersifat temporal dan setempat.

Kondisi ini tentu saja menyulitkan proses perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi kegiatan.

2. Pemahaman yang keliru karena ketidaktahuan dan kurangnya ilmu pengetahuan.

Sumberdaya air dan lahan rawa serta makhluk hidup yang ada pada suatu lokasi pengelolaan dan pe ngembangan belum banyak dipaha mi secara utuh.

Keterisolasian lokasi, terbatasnya sumberdaya yang ada, skala prio ritas pembangunan, masih belum menempatkan rawa sebagai hal yang sangat penting.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di lembaga penelitian, universitas dan badan litbang, masih sulit untuk disampaikan  ke tingkat lapangan secara utuh karena berbagai kendala.

Pada sisi lain, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengelola dae
rah rawa sangat dibutuhkan oleh masyarakat, pemerintah daerah dan pihak swasta yang ada di daerah rawa.

3. Pemilihan lokasi dan program yang tidak tepat.
Keterbatasan data informasi serta iptek rawa pada tingkat perencanaan membuat pemilihan lokasi dan program yang akan diterapkan tidak selalu sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.

Hal ini membuat program dan ke giatan menjadi sangat tidak efektif dan efisien. Mekanisme pengang garan tahunan yang berdasarkan daftar usulan membuat pelaksana kegiatan tidak dapat merubah ke giatan di tengah jalan meski pada kenyataannya kegiatan tersebut ku rang cocok untuk diteruskan.

4.Alih fungsi lahan reklamasi perta nian pangan menjadi perkebunan.
Komdisi lahan pertanian pangan di daerah rawa yang belum optimal karena kemasaman tanah, keter genangan, drainase yang tidak lan car, gulma, hama dan penyakit ta naman, keterbatasan  sarana pro duksi pertanian membuat hasil produksi pertanian yang diperoleh rendah (produksi padi 2-3 ton/ha/tahun).

Pada umumnya lahan seperti ini baru ditanami satu kali setahun dengan pendapatan yang tidak maksimal sehingga sulit untuk hidup layak.

Selain itu, masalah pengelolaan la han dan air yang tidak cukup men dukung untuk pertumbuhan tana man pangan. Hal-hal seperti ini da pat mendorong perubahan peman faatan lahan untuk kegiatan non pertanian pangan, apakah lahan akan diberakan (ditinggalkan) atau menjadi lahan untuk tanaman per kebunan seperti kelapa, kelapa sawit dan karet.

5. Penggunaan satu fungsi (single use) dan multi guna (multiple uses).
Pemanfaatan, pengembangan, dan pengelolaan lahan serta air di dae rah rawa pada beberapa dasawarsa terakhir ini masih bersifat sektoral dan mengarah kepada satu fungsi, misalnya untuk pengembangan tanaman pangan.

Padahal dengan adanya keragaman sifat dan ciri fisik lingkungan tanah, air, flora dan fauna yang ada, peng gunaan secara multi fungsi yang se laras sangat potensial dan dimung kinkan.

6. Program mendadak - ego sektoral.
Permasalahan yang ada seperti kebakaran hutan rawa, gambut dan lahan, kegagalan panen, hama dan penyakit tanaman pada suatu loka si sering mendapat respon yang cepat.

Respon yang berupa tindakan cepat sering bersifat sektoral, artinya ha nya dilakukan oleh sekelompok pe laksana sesuai dengan tugas pokok yang terbatas. Hal ini dapat terjadi karena belum adanya program kom prehensif yang dilaksanakan secara berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar