Senin, 01 Oktober 2018

Dua Menara (13)

Dua Menara (13)
Oleh Wak Amin






HE he he he ...

Brewok dan Pelontos jadi bahan tawaan warga, yang tanpa diberi aba-aba, sudah berkumpul me ngelilingi keduanya.

"Kenapa tengok-tengok?" Bentak Brewok pada si tukang becak se saat setelah membersihkan teba ran sampah kering di seputaran  kepalanya.

Karena dibentak, muka tukang be cak jadi pucat. Dia meminta maaf, tapi bukannya dimaafkan, malah kena maki dan bentak.

"Hey Pak," tunjuk lelaki gendut sam bil berkacak pinggang, "Jangan be gitulah sama orang tua. Beliau kan sudah baik-baik memint maaf. Jadi maafkanlah ..."

"Enggak mau .." Jawab Brewok ketus.

"Tak bisalah Pak. Sakit semua ba dan kami. Berilah kami uang sedikit untuk biaya berobat," kata Pelontos.

"Mana yang luka?" Tanya ibu muda sambil menenteng sangkek plastik berusi sayur, tempe, tahu dan ikan sungai.

Sambil menahan malu, Brewok dan Pelontos memperlihatkan luka ' be ret' di tangan.

"Cuma itu?"

Keduanya mengiyakan ...

"Wuuuuuuu ... Segitu repotnya min ta ampun," kata si ibu tadi, berlalu pergi.

"Kasih obat merah saja kan beres," ujar si gendut.

"Iya," sahut yang lain.

Karena tetap bersikukuh meminta ganti rugi, warga pun habis kesa baran.

"Pukul saja ..."

"Beri pelajaran ..."

Rame-rame dipukuli, Brewok dan Pelontos akhirnya babak belur.

Warga bubar, tukang becak, atas sa ran warga, pergi menyelamatkan diri.

"Aduuuh ..."

"Pediih ..."

"Dimana kita Tos?"

"Di bumi ..."

Ha ha ha ...

"Lucu Om itu," kata serombongan anak, siswa sekolah dasar yang ba ru pulang dari sekolah.

Brewok marah.

"Lariiii ..." Teriak beberapa siswa sambil "menjebili' Brewok dan Pelontos.

" Awas kamu!" Ancam Brewok.

Mau berdiri. Tapi ...

Bruuuk ...

Jatuh terlentang di pinggir trotoar. Keduanya pingsan dengan luka memar di sekujur badan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar