Senin, 15 Oktober 2018

Kisah di Balik Berita (5)

Kisah di Balik Berita (5)
Oleh aminuddin



KISAH DUA ...


Nasib Wartawan Perang, Bertaruh Nyawa Tapi Sering Kali Dicemooh dan Disingkirkan




 

LUAR biasa keberanian dan kecekatan wartawan yang berhasil menjepret foto  seorang prajurit republiken dalam Perang Saudara Spanyol yang sedang ambruk kesambar peluru.

Suatu foto yang mungkin paling termashur di antara gambar-gambar perang.

Robert Capa, demikian nama wartawan itu — seorang pemuda miskin dari Hongaria yang selama Perang Dunia ke-2 menjelajahi Eropa tanpa bekal sepeserpun, bahkan pasporpun ia tidak punya.

Dengan jiwa petualangannya, ia mengembara ke medan-medan perang selama 18 tahun.

Tetapi dalam perang ke 5 yang dicovernya, di Indo-China ia menginjak ranjau darat dan hancurlah badannya.

Banyak peristiwa yang menegangkan dan hal-hal yang menarik dalam kehidupan para wartawan perang dan sejarah kewartawanan perang pada umumnya.

Sementara orang menganggap bahwa mengcover perang tidaklah sukar bahkan paling gampang di bidang jurnalistik.

Foto-foto perang mudah menangkap hati manusia. Obyeknya sendiri sudah "sensasionil" dan penuh “horor".

Ini melayani selera akan ha-hal yang mengerikan, di samping mengetuk hati manusia yang jijik melihat ribuan orang mencekam, serta membunuh sesama manusia dalam perang yang kejam.

Namun kewartawanan perang bukanlah kedudukan yang paling enak dan seringkali kurang mendapat penghargaan.

- Banting tulang, mengemis makanan

"Tempat itu penuh jasad hidup membusuk. Belakangan ini saya tidur dalam suatu gubug yang sudah ambleg, di mana telah dikuburkan sebuah mayat."

"Hanya beberapa sentimeter tanah menjadi pemisah antara kepalaku dan kepalanya. Dan satu setengah meter dari pintu gubug terdapatlah kuburan dangkal tiga serdadu..”

Begitu cerita William Howard Russel tentang kondisi hidupnya sewaktu mengcover perang Krim (1853-56).

Perintis wartawan perang dari The Times itu harus berjuang mati-matian untuk mencapai medan perang.

Baginya tak ada pengakuan, tak ada status di kalangan tentara. Segalanya harus dia urus sendiri. Dari mencari kuda, kereta, sampan, kapal uap, senjata, atau makanannya sendiri.

Tetapi kisah-kisah yang didapatnya bisa mengimbangi jerih payahnya.

Sungguh mengharukan tulisannya tentang Rumah Sakit Rusia di Sebastopol, di mana orang-orang yang dalam sakratul maut dicampur saja dengan mayat-mayat.

Atau penderitaan prajurit-prajurit yang terluka, soal makanan, W.C., pengangkatan dan penguburan mereka yang gugur, itulah tema-temanya yang menggerakkan hati.

Tokoh perintis lain yang merasakan pahit getirnya wartawan perang adalah Archibald Forbes.

Ia berlayar ke Bulgaria ketika Russia menyerang negara itu dalam perang Rusia-Turki tahun 1877.

Sehari-hari, ia di atas pelana mengawasi jalannya perang. Untuk melaporkannya ia harus berhari-hari mengadakan perjalanan ke Rumania.

Pertama-tama ia berkuda ke Sungai Donau. Dari sana lewat jembatan jalan kaki berkilo-kilo meter di atas padang pasir untuk mencapai desa yang pertama.

Dari desa itu ia harus menempuh jarak 80 km dengan pedati kuda kemudian dengan kereta api sejauh 60 km ke Bukares.

Di sana badan kotor hampir tak bisa bergerak dan dalam keadaan itu ia mencoret-coretkan pensilnya. Setelah makan dan tidur, ia segera kembali keperang lagi.

Masih untung kalau tulisannya diluluskan oleh sensor Rusia. Bila tidak ia terpaksa mengirimkannya dengan kuda-ekspress ke pos tilgraf di Hongaria.

“Ini bukan main mahal ongkosnya" keluhnya.


- Disebut parasit

Kecuali mengalami kehidupan yang tidak enak, para wartawan perang waktu itu kerapkali dicemoohkan dan disingkiri.

Orang Jerman memberi mereka julukan si lontang lantung dalam perang. Sedangkan tentara Inggris mencurigai mereka sebagai "parasit".

Sampai tahun 1870, tentara Perancis melarang wartawan keluyuran di medan perang, meskipun isteri-isteri dan para wisatawan mereka sambut dengan gembira.

Biasanya para wartawan perang kurang mendapat kepercayan. Mereka hanya dianggap "amatir" yang kurang mengetahui persoalan.

Majalah Observer misalnya pernah membuat kisah tentang pertempuran Waterloo yang ditulis oleh Duke of Wellington sendiri.

Di Sudan penguasa perang Kitchener tidak senang kepada wartawan-wartawan. Serombongan wartawan suatu hari menantinya di luar kemahnya.

Tetapi orang besar itu tidak mau keluar dan ketika melangkah dari pintu kemahnyapun ia membentak kasar, "Menyisihlah kalian orang-orang pemabuk".

Dan ketika Churchill mau ke Afrika sebagai wartawan, jenderal itu mencoba menghalangi kedatangannya.

Kalau ada wartawan perang yang dikagumi Kitchener, maka itu adalah karena orang itu pemberani dan bukannya karena ia cakap sebagai wartawan.

Misalnya, Hubert Howard dari The Times, yang meninggal dunia ka rena pecahan mortir Inggris yang hampir menyasar ke tubuh jenderal itu.


- Menyabung nyawa

Kehidupan wartawan perang yang penuh petualangan itu memang menarik bagi kaum muda.

Tetapi pekerjaan itu penuh risiko dan bahaya. Lima orang gugur dalam Perang Turki-Serbia, lima orang di Sudan.

Dalam Perang Dunia ke-2, ada korban 20 wartawan Amerika dan 19 wartawan Commonwealth.

Larry Burrows, wartawan dari Life, ditangkap ketika ia pergi ke Konggo, dipukuli dan kehilangan kameranya sampai 4 kali.

Atau Eugene Smith mengambil foto seorang serdadu yang sedang sakratul maut dalam tahun 1945 di Okinawa, sesaat sebelum ia sendiri mendapat luka berat akibat pecahan mortlr.

Dalam pemberontakan Taiping di Tiongkok, seorang wartawan Times ditangkap dan ditembak mati.

Dan dl Korea, Ian Morrison, seorang wartawan yang sangat cermat, menemui tewasnya karena menginjak ranjau darat.

Dalam konflik Arab-Israel baru-baru ini seorang jurnalis foto, Paul Schutzer, yang bekerja untuk Life, mati tertembak dalam perjalanannya ke Gaza.



_____

- (Kisah tentang wartawan perang ini pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Januari 1968)

- Intisari.Grid.ID



Tidak ada komentar:

Posting Komentar