Senin, 01 Oktober 2018

Yaman dan Pertemanan (14)

Yaman dam Pertemanan (14)
Oleh aminuddin



- Wartawan Yaman: Pernikahan anak di sini mengerikan

VIDEP penuturan gadis Yaman 11 tahun, Nada al-Ahdal, yang mengaku kabur karena menolak dinikahkan, membuka tabir tradisi pengantin anak di Yaman.

Seorang wartawan Yaman yang mewawancarai Nada, setelah video berdurasi 2,5 menit di YouTube itu tersebar, membenarkan masih hi dupnya tradisi pengantin anak di negaranya.

Hind al-Eryani, wartawan Yaman, yang mewawancarai Nada, menyebut, tradisi pengantin anak di Yaman adalah masalah yang mengerikan.


Tradisi itu berjalan dari tahun ke tahun dan mengakar kuat, karena kaum konservatif mengklaim tradisi itu sesuai perintah agama.

”Ini lebih umum terjadi di masyarakat miskin," kata al-Eryani, seperti dikutip CNN, belum lama ini.

Di Yaman, seperti pengakuan Nada, anak-anak dinikahkan, salah satu motifnya karena alasan ekonomi.

”Ada pepatah, seorang warga Yaman mengatakan begini: ‘Nikahlah dengan seorang gadis 8 tahun, dia dijamin, pasti perawan’. Ini adalah pepatah menjijikkan dan tidak manusiawi, tapi pepatah itu sangat terkenal (di Yaman),” kata  Al-Eryani.

Al-Eryani, mengatakan, bagaimanapun kuatnya tradisi konservatif  di negaranya, ia percaya anak-anak dan generasi muda mulai membuka mata untuk menggeser tradisi itu.

Nada al-Ahdal, 11, salah satu bocah yang berani mendobrak tradisi pengantin anak di Yaman, dengan cara mengunggah video keluh kesahnya yang menolak dinikahkan ke situs YouTube.


"Hal berubah banyak setelah re volusi, dan sekarang orang lebih menyadari masalah ini," kata Al-Eryani.

”Sebelum kita begerak untuk berbuat,  pihak-pihak konservatif merasa lebih kuat dari kami, namun belakangan tidak.”


- Menikah Muda

MENIKAH muda tidak pernah dianjurkan, namun bila dua insan yang telah dewasa dan paham dengan konsekuensi berumah tangga, hal itu tidak jadi persoalan. Namun belum lama ini  sebuah pernikahan di Yaman menjadi perhatian dunia.


Dengan alasan untuk mempertahankan tradisi, anak-anak di daerah Timur Tengah ini dipaksa menikah muda di usia mereka yang masih kanak-kanak.

Padahal, bila anak kecil dipaksa menikah, bukan saja telah melanggar hak asasinya, namun juga pernikahan tersebut berdampak buruk secara kesehatan terutama untuk si gadis.


Seperti kisah tragis yang terjadi di daerah Yaman, Timur Tengah ini .......

Seorang gadis berusia 8 tahun di paksa mengikuti tradisi yakni harus menikah muda. Gadis yang tidak disebutkan namanya itu akhirnya meninggal dunia setelah melaku kan malam pertama dengan suami yang usianya lima kali lebih tua dari dirinya.

Ia menderita luka di bagian kemaluan karena dipaksa untuk berhubungan intim di malam pengantinnya. Gadis itu pun akhirnya meninggal di rumahnya di Hardh, wilayah barat laut Yaman.

Hal yang serupa juga terjadi di India ....

Sebuah kamera tersembunyi mere kam adegan saat sepasang bocah dinikahkan di Chittorgarh, Rajas than, India.

Video itu begitu menyayat hati ke tika gadis berusia sekitar 10 tahun yang hendak dinikahkan menangis dan meminta pertolongan ayahnya untuk menghentikan upacara pernikahan tersebut.

Namun sang ayah tetap saja melanjutkan upacara pernikahan.

Kedua kisah tragis yang dialami anak-anak tersebut karena dipaksa menikah muda tentu menjadi perhatian banyak orang.

Sungguh memprihatinkan, seorang anak harus meninggal dunia hanya karena menikah muda di usia mere ka yang seharusnya masih menik mati keceriaan masa kecil.


- Seranjang Bareng Muhammad

TERPAKSA seranjang bareng Mu hammad. "Usianya tiga kali lebih tua ketimbang saya. Dia memandang pernikahan sebagai alat buat bertindak seperti binatang," kata Nura.



Bagi Muhammad al-Ahdam, 33 tahun, malam pertama itu begitu dia nantikan. Dengan nafas sedikit memburu, dia melepas satu-satu pakaiannya. Dalam sekejap dia bugil.

Tapi buat Nura asy-Syami, sebelas tahun, malam itu adalah awal dari horor dan trauma terbesar sepanjang hidupnya.

Melihat suaminya telanjang, dia berteiak ketakutan dan berusaha keluar dari kamar pengantin. Usahanya meminta bantuan percuma saja sebab keduanya sudah sah menikah.

Ayahnya menjodohkan dia dengan Muhammad karena tidak ingin Nura hidup miskin. Muhammad bekerja sebagai pegawai negeri.

Pernikahan dini hal lumrah di seantero Yaman. Orang tua gadis biasanya menjodohkan dan menikahkan putri mereka karena faktor ekonomi: untuk mengurangi beban keluarga.

Menurut data Kementerian Sosial Yaman pada 2010, seperlima dari pengantin perempuan di negara itu berusia di bawah 15 tahun.

Negara ini pernah mengeluarkan aturan umur paling muda buat menikah adalah 15 tahun. Namun kebijakan ini dianulir dengan alasan orang tua berhak menentukan kapan putrinya harus menikah.

Setelah pesta tiga hari tiga malam di kota pantai Al-Hudaidah, Yaman, pengantin baru ini menetap di rumah orang tua Muhammad.

"Usianya tiga kali lebih tua ketimbang saya. Dia memandang pernikahan sebagai alat buat bertindak seperti binatang," kata Nura mengenang pengalaman pahitnya.

Saking takutnya, Nura menolak melayani suaminya di sepuluh hari pertama. Sehabis bercinta untuk pertama kali, tubuhnya kejang dan dia terpaksa dirawat di rumah sakit.

Rupanya pilihan ayahnya salah kaprah. Muhammad bukan lelaki baik. Dia kasar dan sering memukuli Nura. "Saya cuma menjadi objek seks," ujarnya.

Bahkan akibat kekerasan fisik dan mental oleh suaminya, Nura keguguran dua kali.

Pasangan ini akhirnya dikaruniai anak pertama dua tahun setelah berumah tangga. Putra pertama mereka, Ihab lahir ketika Nura berumur 13 tahun.

Setahun kemudian, dia melahirkan anak perempuan diberi nama Ahlam. Genap berumur 15 tahun, Nura memiliki anak ketiga bernama Syibab.


Meski sudah beranak, perilaku buruk Muhammad tidak berubah. Karena tidak kuat lagi menahan derita, Nura mengajukan cerai dibantu pengacara ditunjuk oleh lembaga nirlaba internasional Oxfam.

Setelah satu dasawarsa, Nura akhirnya pada 1989 berpisah dari suaminya. Dia mengikuti jejak ibunya menikah di usia sembilan tahun dan bercerai setahun kemudian.


- Martabat Yaman

KEJADIANNYA akhir Maret lalu. Ra madhana, ibu berasal dari keluarga miskin di Provinsi Hudaidah, Yaman, mengaku telahn diperkosa oleh seorang tentara bayaran asal Sudan.

Sudan termasuk dalam pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi untuk memerangi milisi Syiah Al-Hutiyun. Koalisi Saudi ini sudah menggempur Yaman sejak Maret 2015.

Dalam sejumlah wawancara sehabis peristiwa itu, Ramadhana bilang disergap ketika sedang mencari kayu bakar. Keluarganya tinggal dekat kamp militer Abi Musa al-Asyari di Distrik Al-Khaukha.

Dalam wawancara terakhir dengan Muhammad al-Masmari, penyair Yaman menetap di Amerika Serikat, Ramadhana bercerita dirinya langsung dipukul wajahnya dan diperkosa.

Dia sejatinya pergi mencari kayu bakar bareng perempuan lainnya. Seorang tentara bayaran dari Sudan mencegat dan bertanya ke mana tujuannya. Saat itu, para perempuan lain sudah jalan meninggalkan dirinya.

"Dia kemudian memukul wajah saya dan menyeret saya ke dekat pepohonan. Di sanalah dia merenggut kehormatan saya," kata Ramadhana. Kejadiannya pada Kamis pukul empat sore."

Sehabis itu, beberapa wanita membawa Ramadhana ke dokter untuk diperiksa. Hasilnya, dia memang benar diperkosa.

Pasukan Uni Emirat Arab (UEA) mendengar peristiwa itu setelah Ramadhana bercerita kepada se sepuh kampung dan tetangganya. Mereka turun tangan dan memba wa Ramadhana ke dalam kamp dan memaksa dia menandatangani surat.


Isinya tidak pernah ada perkosaan atas Ramadhana. Ramadhana datang bersama suaminya, namun dilarang masuk.

"Ketika saya masuk ke dalam kamp, saya mengenali tentara Sudan memperkosa saya," ujarnya.

"Tapi pasukan UEA mengancam akan membawa saya ke UEA kalau menolak meneken surat menyatakan tentara Sudan itu tidak memperkosa saya."

Kabar pemerkosaan atas Ramadhana segera menyebar ke seantero Hudaidah. Semua warga Yaman muak dan murka. Kebencian mereka terhadap pasukan Arab Saudi dan UEA kian menjadi-jadi.

Kedua negara ini memang bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan di Yaman. Inisiatif mereka mencampuri urusan domestik telah mengakibatkan negara Ratu Balqis itu luluh lantak.

Peraih Nobel Perdamaian asal Yaman, Tawakkul Karman, menyatakan akan menggugat Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan ke ICC (Mahkaman Kejahatan Internasional).

Keduanya diyakini bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kemanusiaan di Yaman.

Mufti Agung Yaman Syekh Syamsuddin telah menyerukan kepada rakyat Yaman untuk berjihad mengusir invasi pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi itu.

Rakyat Yaman memang pantas murka sebab kehormatan Ramadhana adalah martabat Yaman.






_____

- SindoNews.com

- M.riau24.com

- Al-Valade.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar