Tangga Bahagia (11)
Oleh aminuddin
Rukun Bahagia
TIDAK ada dalam hidup manusia kesenangan tanpa diiringi kesusa han atau kesusahan yang tak ber ganti dengan kesenangan.
Tetapi ada pul manusia yang bero leh nasib separo kesusahan dan separo kesenangan. Atau nikmat lebih banyak kelihatan di tangan seorang, dan sedikit di tangan yang lain.
Namun begitu, semuanya tidak juga menerima bahagianya dengan ri dha. Adapun bagian yang lebih ba nyak di kalangan manusia, ialah orang yang selalu merasa kecewa. Karena itu bahagianya jauh dari padanya.
Bagaimana ikhtiar supaya kita be roleh hasil kebaikan dari itu?
Bagaimana akal ikhtiar supaya kesenangan lebih dirasai dari kesusahan?
Padahal senang dan susah, susah dan senang -- tak bisa tidak -- mesti berganti-ganti datang pada kehidupan?
Manusia pelupa, dan lupa itu bukan menurut kehendaknya. Di kala su sah, lupa dia, dia dahulu telah me rasai senang.
Di kala sakit, lupa dia, bahwa dulu nya dia sehat. Hingga Nabi Ayyub sendiri, ketika harta bendanya telah habis dan badannya telah rusak binasa ditimpa penyakit lupa dia bahwa dahulu dia kaya raya, segar bugar.
Sehingga dia merintih, memekik sepenuh bumi sebab sesudah dia senang, di ditimpa sakit dan mela rat. Padahal kalau dia ingat hal ya ng pertama, tentu ringan baginya hal yang kedua.
Orang ahli hikmat dan orang dungu, sama saja kelakuannya dalam per kara sefasal ini. Oleh karena itu ka mi minta kepada keduanya, si ahli hikmat dan si dungu, supaya sudi memeliharakan ilmu, memelihara kan undang-undang dan agama.
Karena dengan hanya menjaga ke tiganya itulah manusia akan mera sai nikmat kesenangan yang um um, itulah yang meringankan pera saan kecewa, dengan sekedar bisa, dalam hidup.
Itulah kewajiban ilmu, undang-un dang dan agama, yaitu menolong manusia untuk menjelaskan ke hendak pengubah kehidupan Yang Maha Besar, yaitu agar kebaikan yang besar menjadi bagian yang besar pula bagi tiap-tiap manusia.
Tak ragu lagi, bahwa kepada lang kah inilah kita semuanya menuju. Tak ragu pula, bahwa manusia yang berkehendak membagi kesenangan dan kesusahan, nikmat dan celaka, lebih banyak jumlahnya pada masa ini, daripada di zaman kehidupan Tutankhamen.
Bilangan ini akan bertambah jua, tak akan susut. Dan bagian yang menerima bahagia akan lebih besar dari yang menerima celaka. Jika sekiranya ilmu bertambah maju, niscaya perbaikan ekonomi dan masyarakat bertambah maju pula.
Itulah kehendak kita ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar