Peluk Aku Ya Allah (3)
Oleh Wak Amin
"Om ... Zainab lapar."
Zainab terbangun. Di tengah meng gelegarnya suara tembakan, dia tak malu-malu dan takut untuk menga takan 'lapar.'
"Sebentar ya Nab. Kita cari sama-sama ..."
"Ya Om ..."
Mata Zainab tak berkedip sedikit pun menatap janggutku. Dia raba. Lalu beralih ke bibir, hidung dan ma taku.
"Kalau Om capek tak usah dicari Om. Zainab biasa enggak makan sehari dua .."
"Enggak. Om tidak capek Zainab. Ki ta cari dulu. Kalau-kalau ada waru ng yang buka.
Siang itu, tak satu pun rumah ma kan yang buka. Meski cukup jauh dari lokasi ledakan yang meluluh-lantakkan pusat kota, warga masih takut karena bisa jadi akan disusul luncuran rudal berikutnya.
"Kemana lagi aku harus mencari ys Allah. Tolonglah anak ini ya Allah. Aku takut dia mati ya Allah ..."
Air mataku meleleh ...
"Om jangan nangis. Zainab tidak lapar lagi .."
"Om tidak menangis Zainab," jawab ku berbohong agar Zainab tak ikut bersedih.
"Ini apa Om?" Tanya Zainab sambil mengusap lelehan air mata di ba wah kedua mataku.
Aku tak menjawab ..
Kutatap sesaat wajahnya yang can tik itu. Tak kuat aku. Kucium kedua belah pipinya. Hangat sekali.
"0m harus kuat ..."
Subhanallah ..
Tersadar aku. Aku baru ingat. Dima na kami berdua sekarang. Kuberhen ti sebentar. Kuturukan Zainab.
Kuambil batu kerikil. Kucoret-coret tanah di pinggir jalan raya yang di penuhi banyak lubang.
Zainab memperhatikanku. Dia tidak bertanya kali ini. Dia cuma duduk bersila di dekatku.
Tak lama kemudian lewatlah sebu ah mobil butut. Jalannya lambat. Kalau tak terpaksa tak mau orang menaiki mobil tua itu.
Tapi aku tidak. Aku harus ikut. Aku harus hentikan mobil itu. Sebab jika tidak maka perjalanan yang akan di tempuh ini semakin jauh.
Aku lambaikan tangan. Aku berha rap lambaian tanganku dilihat pe ngemudinya. Harapanku terkabul. Mobil berhenti dekat aku dan Zai nab berdiri.
Seorang lelaki mendongakkan ke palanya. Melihat ke arahku. Tata pannya tajam.
Aku sepertinya mengenali wajah itu. Tapi siapa ya?
"Hei Kek. Kenapa kakek tengok Om Ihsan begitu. Marah ya disuruh ber henti. Jangan Kek. Nanti kakek ma kin tua. Terus mati. Mobilnya gima na Kek?"
Ha ha ha ..
Si kakek tertawa ...
Dia turun dari mobil. Dia tutup pintu mobil. Lalu balik badan. Berhada pan denganku.
Tak lama ...
Karena setelah itu ..
Laki-laki tua itu memelukku. Erat sekali ...
"Benar kamu Kolonel Ihsan kan?" Tanyanya sesaat setelah melepas kan pelukannya ke aku.
Aku mengiyakan ...
"Aku Jenderal Fauzi. Kamu ingat kan?"
Subhanallah ...
Aku baru ingat ... Benar dugaanku tadi ...
"Jenderal ..."
Kali ini aku yang memeluknya. Aku terharu. Dia mantan atasanku. Ka mi berpisah cukup lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar