Kamis, 30 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (9)

Peluk Aku Ya Allah (9)
Oleh Wak Amin





SSSST ..

Ada suara langkah kaki. Terdengar dari atap rumah.

"Kolonel. Ikut saya. Cepaat!"

Jenderal Fauzi menggeser lemari. Ada pintu, papan penutup dan ta ngga kayu menuju ke bawah.

Bunker ini sengaja dibuat untuk per sembunyian. Sejauh ini aman-aman saja.

"Kek. Kenapa gelap?" Tanya Zain ab. Dia tak bisa lihat apa-apa.

"Sebentar Nab," kata Jenderal Fau zi, "Kakek akan tunjukkan sesuatu yang kakek yakin kamu suka."

Ahaaa ...

Zainab senang mendengarnya.

"Apa itu Kek?"

"Nanti Zainab tengok sendiri .."

Berjalan sekitar tiga meter, belok ka nan ketemu dengan kolam kecil yang indah.

Di tengah kolam ada lampu yang di kelilingi air yang memencar. Kolam yang jernih airnya itu bisa dijadikan tempat duduk-duduk karena bagian pinggirnya dilapisi keramik keema san.

"Nah, ini tempatnya. Zainab suka kan?"

"Suka Kek."

"Alhamdulillah," ucap Zainab kegi rangan. Sudah lama dia tak meli hat kolam, terkecuali tumpukan ba tu bekas reruntuhan gedung yang hancur dihantam rudal.

Sementara di luar bunker ada lima pria bersenjata lengkap. Mereka ob rak abrik setiap ruangan. Tapi tak menemukan keberadaan Jenderal Fauzi.

"Cari ke setiap sudut!" Perintah laki-laki tinggi kurus.

"Siap Bos."

"Jangan lupa. Door Jenderal Fauzi kalau ketemu."

"Siap Bos."

"Kalau tidak ketemu Bos?" Tanya si gemuk.

"Tak usah tembak."

"Tembaknya sampai mati atau se tengah mati Bos?" Tanya rekan gemuk yang mahal senyum.

"Sampai mampus tau." Sang Bos kelihatan marah dan kesal. Tapi dia senang karena keempat anak buah nya bisa diajak kerjasama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar