Kamis, 23 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (2)

Peluk Aku Ya Allah (2)
Oleh Wak Amin







PANDANGANKU tiba-tiba tertuju pada seorang anak perempuan kecil. Sekitar lima tahunan usianya.

Si anak duduk bersimpuh sambil menangis, berurai air mata.

Aku dekati dia ...

Kusapa dia, namun sudah lebih dulu dia menyapaku ...

"Om. Mana ayah ibuku Om?" Tanya nya sambil terisak.

Aku tak menjawab ...

Aku gendong dia. Kubawa ke baw ah pohon besar, satu-satunyo poh on yang 'selamat' dari hantaman rudal.

"Namaku Zainab, Om."

"Nama Om, Ihsan."

Kami berkenalan. Zainab tak mena ngis lagi. Aku senang melihatnya. Dia bercerita tadinya dia jalan ber tiga sama kedua orang tuanya.

Entah dari mana asalnya. Tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat. Bangu nan pada roboh. Orang pada berte riak. Berlari menyelamatkan diri.

"Sekarang Zainab sendirian Om," uc ap Zainab sembari memelukku er at.

Aku menenangkannya. Aku belai rambutnya yang hitam keemasan. Aku cium keningnya.

"Ya Allah. Kuatkan hatiku."

Kuberharap tak patah semangat me neruskan perjuangan ini.

"Dari dia, kuharap padamu ya Allah, kau tak lemahkan aku. Kuberlindu
ng padamu. Bantu aku Ya Allah."

Kulihat Zainab tertidur pulas. Ku buka pakaian luarku. Kubentangkan di atas rumput yang separonyo ter tutupi serakan batu kecil.

Kurebahkan tubuh Zainab. Pelan sekali agar tak terusik dari tidur pulasnya.

Kuseka keringat di seputar wajahku dengan telapak tangan. Kupandang langit yang cerah. Tampak mata ha ri bersinar terang.

Rasa kantuk menghampiriku. Sepa njang malam hingga pagi jelang si ang ini aku memang tak tidur. Te r us berjaga dari tembakan senapan dan rudal yang sewaktu-waktu me nghantamku.

Kusandarkan tubuhku di batang po hon besar itu. Mataku mulai berat. Tapi terus kulawan sampai akhirn ya dari kejauhan sayup-sayup ter dengar orang berteriak yang diseli ngi suara rentetan tembakan.

Kugendong Zainab. Kubawa pergi mendekati sebuah jalan pertigaan. Lengang.

Aku bertemu dengan seorang pria sepuh bersama cucunya tergopoh-gopoh menuju benteng pinggiran kota.

"Gawat Pak. Pasukan tank masuk kota," katanya, berlalu pergi dengan wajah yang penuh ketakutan.

"Ingin kucari dimana posisi pasu kan tank itu. Tapi, bagaimana dengan Zainab?"

Pikiranku berkecamuk awalnya. Na mun setelah itu, dengan mengucap bismillahi allaahu akbar, kubergerak bersama Zainab mendekati jalan ke cil yang kanan kirinya disesaki tum pukan sisa reruntuhan gedung.

Aku hanya ingin memastikan apa betul ada pasukan tank memasuki wilayah kota seperti yang dicerita kan si kakek barusan.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar