Senin, 27 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (6)

Peluk Aku Ya Allah (6)
Oleh Wak Amin


MOBIL terus melaju lambat. Mele wati jalan yang di kanan kirinya hutan bersemak.

Sepuluh menit kemudian mobil be lok kanan melewati jalan tanah. Me nurun. Lalu mendatar. Belok kanan lagi, kiri, kanan dan lurus.

Mobil berhenti persis di dekat po hon zaitun.

"Alhamdulillah kita sampai dengan selamat," ucap Jenderal Fauzi. Dia turunkan Zainab, menyusul kemu dian Kolonel Ihsan.

Zainab senang melihatnya. Ada ru mah, ada pohon zaitun, ada batu-batu berderet. Ada kolam pula.

Asyik banget ...

"Boleh ya Kek, Om Ihsan, Zainab main-main nantinya di rumah itu." Zainab menunjuk ke sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang luas.

"Boleh. Yuk!"

Sambil melompat kegirangan, Zai nab berlari mendekati rumah kepu nyaan Jenderal Fauzi itu.

Dia mau masuk, tapi tak bisa kare na terkunci rapat.

"Ini kuncinya sayang."

"Makasih Om ..."

Satu kali putaran pintu terbuka. Ta pi Zainab belum mau masuk kare na gelap.

"Takut ya." Goda Jenderal Fauzi.

"Iya Kakek Jenderal. Kata orang-ora ng, tempat yang gelap banyak han tunya."

Ha ha ha ha ...

"Sekarang lihat Kakek ya."

Jenderal Fauzi masuk lebih dulu. Lalu dia nyalakan lampu ..

Byaaaar ...

Ruang tamu terang benderang ..

Waaaah ...

Zainab takjub melihatnya. Dia ber lari mendekati sebuah kursi pan jang di ruang tamu.

Dia duduk disana ...

Lalu ..

Berlari ke ruang belakang. Dapur. Di atas meja makan ada sedikit maka nan, gelas dan wadah air minum.

Dia bergegas menemui Jenderal Fauzi dan Kolonel yang kelihatan serius memperbincangkan sesuatu di ruang tamu.

"Om, Kek. Zainab ambilkan air mi num ya."

"Zainab bi ..."

Zainab menempelkan telapak ta ngan kanannya di mulut Kolonel Ihsan.

"Bisa Om Ihsan. Sebentar Om, Kek,  Zainab ambilkan airnya."

                           ****
           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar