Jumat, 31 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (10)

Peluk Aku Ya Allah (10)
Oleh Wak Amin




LIMA pembunuh bayaran ini akhir nya menemukan pintu masuk bun ker. Bergegas menuruni anak tang ga sampai ke tanah terowongan.

Gelap gulita ...

Mereka serempak menyalakan ko rek api. Hidup mati hidup mati api korek api. Akhirnya sampai ke ko lam tempat dimana Jenderal Fauzi, Kolonel Ihsan dan Zainab beristi rahat.

Kini mereka bertiga sudah tidak ad a lagi. Mereka sudah pergi. Tapi kemana?

Ternyata mereka tidak kemana-ma na. Mereka masih berada di sekitar kolam. Mereka bersembunyi mem perhatikan gerak-gerik lima lelaki bertopeng hitam itu.

Kreeeng ...

Terdengar suara dari atap bunker. Dengan cepat perangkap gede yang terbikin dari besi itu meluncur ke bawah dan berhasil mengurung kelima pria tadi itu.

Ha ha ha ha ...

Zainab ketawa terpingkal-pingkal ....

"Lucu ya Kek, Om."

Kelima pembunuh berdarah dingin itu berusaha untuk keluar dari pera ngkap besi itu dengan cara menem baki jeruji besi dengan senjata api.

Sayang mantul. Tak mempan ditem bus pelor ...

Sesaat kemudian Kolonel Ihsan me lepaskan tembakan secara berun tun yang mengarah ke kaki dan ta ngan.

Lawan lumpuh seketika. Karena se cara bersamaan Jenderal Fauzi ber hasil mengamankan senjata api d an pedang yang sempat terlempar ke sisi dalam perangkap bermuatan enam orang itu.

Kini mereka sudah tertawan. Mere ka sudah tidak bisa beraksi lagi. Ta pi, daripada menyerah lebih baik mati.

Mati dengan cara apa?

Mereka ambil botol kecil dari saku baju bagian dalam. Botol berisi cai ran itu tutupnya mereka buka dan teguk sampai abis.

Meregang nyawa. Dari mulut mere ka keluar busa. Dan setelah itu ma ti. Mereka melakukan aksi bunuh diri.

Jenderal Fauzi dan Kolonel Ihsan tak mampu mecegah aksi bunuh diri rame-rame itu karena berlang sung amat cepat.

Untungnya beberapa persenjataan berhasil diamankan, sehingga jum lah persenjataan Jenderal Fauzi dan Kolonel Ihsan menjadi ber tambah.

Demi keamanan, Jenderal Fauzi dengan amat terpaksa mening gal kan kediamannya menuju ke suatu tempat yang bisa jadi lebih aman.

"Dimana itu Jenderal?"

"Tak jauh dari sini. Mungkin memer lukan perjalanan sejam lebih," kata Jenderal Fauzi seraya menambah kan di sana merupakan salah satu tempat latihan pasukan pribumi.

"Kek, Om Kolonel. Zainab ikut enggak?"

He he he ...

"Ikut dong say," kata Kolonel Fauzi sambil mencium hangat kedua belah pipi Zainab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar