Rabu, 29 Mei 2019

Peluk Aku Ya Allah (7)

Peluk Aku Ya Allah (7)
Oleh Wak Amin






TENGAH malam ...

Huuup ...

Tiga laki-laki bertopeng, berpakaian serba hitam melompat turun dari lo teng. Mereka bersenjatakan pedang dan pistol. Target mereka adalah menghabisi Jenderal Fauzi.

Ketiganya berpencar. Satu ke de p an, satu lagi ke belakang, satu lagi masuk lewat samping dengan cara mencongkel jendela kaca.

Bergerak secara berlapis menuju tempat dimana Jenderal Fauzi beristirahat ...

Pintu dibuka perlahan. Pedang siap diayunkan ...

Triiing ...

Beradu dengan pedang Jenderal Fauzi. Mengelak sedikit ke kanan, pedang diayunkan, menebas perut lawan.

Meregang nyawa seketika ...

Melihat rekannya tewas, dua laki-laki bertopeng melepaskan temba kan. Kolonel Ihsan mengelak ke kiri, bersembunyi di bawah tempat tidur bersama Zainab.

"Zainab tunggu sini ya. Jangan kemana-mana." Bisik Kolonel Ihsan.

"Om mau kemana?"

"Bantu kakek."

"Siap Om Kolonel!"

Sssssst ...

Ketika tempat tidur diberondong pe luru, Kolonel Ihsan berhasil menje pit tali lawannya. Keduanya ber guling-gulingan.

Saling adu pukulan dan tendangan. Belum terlihat siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Lawan menendang, Kolonel Fauzi menghindar ke kanan. Lalu memu tar badannya sambil melepaskan tendangan balasan.

Auuuugh ...

Kena ulu hati. Lawan terkejut. Saat itulah Kolonel Ihsan melepaskan tembakan. Jatuh terkapar.

Di luar kamar masih terjadi perke lahian seru antara Jenderal Fauzi dengan pria bertopeng.

Sama-sama menggunakan pedang, keduanya terlibat adu pedang. Sem pat terlepas kena ayunan pedang lawan, Jenderal Fauzi berlari ke kanan.

Ada sebuah jalan disana, menghu bungkan antara ruang tengah de ngan ruang belakang.

Jenderal Fauzi bersembunyi di balik dinding pembatas. Lawan berusaha mendekat ..

Tiba-tiba ..

Praaak ...

Sebuah sepatu tepat mengenai kepala pria bertopeng ...

He he he ...

Zainab tertawa ...

Dooor ...

Door ..

Dua tembakan yang dilepaskan la ki-laki kurus itu nyaris mengenai Zainab andai saja Kolonel Ihsan terlambat menggendongnya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar