Sabtu, 18 Mei 2019

Mang Kerio (105)

Mang Kerio (105)
Oleh Wak Amin




"ASSALAMUALAIKUM. Ini Mang Ke rio. Dengan siapa saya bicara?"

"Waalaikum salam. Saya, Bu Asih, Mang Kerio," jawab si penelepon de ngan suara serak-serak basah.

"Selamat pagi Bu Asih. Apa yang kira-kira bisa Mamang bantu?"

Bu Asih tak menjawab ...

"Bu Asih. Halo!"

"Ya Mang. Maaf saya tadi batuk tiba-tiba."

"Ooo begitu. Mamang kira ada apa."

"Begini Mang. Sudah beberapa bu lan terakhir ini saya tidak lagi me nerima nafkah materi. Saya tidak menerima lagi uang gaji dari suami saya."

"Ibu pernah tanya kepada suami ibu kenapa dia tega berbuat begitu sama ibu?"

"Sudah Mang," jawab Bu Asih teri sak.

"Apa kata suami ibu?"

"Saya boros Mang. Padahal uang gaji itu sudah saya hemat-hemat kan.Saya jelaskan serinci-rincinya. Tapi suami saya tetap menganggap saya boros. Tak bisa mengatur ua ng ..."

"Ibu bekerja?"

"Tidak tadinya. Tapi sejak saya tak terima uang per bulan dari suami saya, saya terpaksa berjualan pem pek .."

"Eem maaf Bu Asih ya. Apa dengsn ibu berjualan pempek kebutuhan ibu dan anak-anak ibu tercukupi?"

"Kadang cukup kadang tidak Mang," jelas Bu Asih.

"Kalau tidak cukup gimana Bu?"

"Saya ngutang ke tetangga."

"Uang panas Bu?"

"Alhamdulillah tidak Mang. Tapi yang namanya utang, walau de ngan tetangga, tetap harus dibayar. Begitu kan Mang?"

"Oh iya Bu. Harus begitu."

"Saya minta bantuan Mang Kerio untuk mengatasi masalah yang sa ya hadapi sekarang ini. Terserah bagaimana caranya."

"Baik Bu. Mamang akan bantu. Tapi sebelumnya mamang tanya dulu. Boleh kan Bu?"

"Boleh Mang."

"Yang ibu Asih inginkan adalah gaji suami ibu kembali ke ibu. Betul?"

"Betul Mang."

"Eeem satu lagi Bu Asih. Apa ibu mengalami KDRT juga?"

Bu Asih belum menjawab ..

"Bu Asih. Halo!"

"Ya mengalami juga, tapi hanya sesekali ..."











Tidak ada komentar:

Posting Komentar